Pasien Meninggal Dan Selamat COVID-19 Alami Perbedaan Reaksi Antibodi, Ini Sebabnya
AFP/Sony Tumbelaka
Health
Pandemi Virus Corona

Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkap reaksi berbeda antibodi pada tubuh pasien yang selamat dan meninggal karena terinfeksi virus corona. Peneliti jelaskan penyebab utamanya.

WowKeren - Berbagai penelitian seputar virus corona masih terus giat dilakukan di dunia. Pasalnya, COVID-19 terbilang jenis virus yang cukup baru dan memiliki dampak cukup fatal di berbagai negara.

Baru-baru ini, studi terbaru mengamati reaksi antibodi antara pasien yang selamat dan meninggal karena terinfeksi virus corona. Hasilnya, reaksi antibodi pada pasien selama dan meninggal menunjukkan perbedaan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Cell ini mengungkapkan respons antibodi tidak pernah berkembang sepenuhnya pada pasien meninggal karena COVID-19. Temuan ini mengandalkan pendekatan serologi sistem Alter untuk membuat profil respons kekebalan antibodi.

Metode ini diterapkan pada 193 pasien virus corona yang dirawat di rumah sakit Umum Massachusetts, Amerika Serikat. Tim peneliti lantas membandingkan respons antibodi dari pasien dengan penyakit sedang dan berat, serta pasien yang meninggal karena COVID-19.


Dilansir dari Science Daily, peneliti menjelaskan penyebab tidak adanya respons antibodi pada pasien meninggal karena virus corona. Pasien meninggal disebut memiliki cacat yang signifikan dalam pengembangan antibodi IgG, dimana antibodi itu bertanggung jawab dalam pengendalian awal dan penghapusan virus.

Peneliti studi Galit Alter mengatakan dalam respons imun yang matang, antibodi sanggup memblokir infeksi dan mengarahkan sistem kekebalan untuk membunuh sel yang terinfeksi. Untuk memandu respon imun pembunuh, antibodi menempel pada reseptor Fc.

Reseptor Fc merupakan sebuah tempat berlabuh khusus untuk antibodi yang ditemukan pada semua sel imun. Tanpa ikatan reseptor Fc yang kuat, antibodi mungkin gagal menangkap dan menghancurkan virus setelah infeksi.

Berbeda dengan pasien COVID-19 yang selamat. Tim peneliti menemukan bahwa sistem kekebalan orang yang selamat dapat mengenali dan menargetkan area protein spike SARS-CoV-2 yang dikenal sebagai domain S2.

Domain S2 biasanya ditemukan pada virus corona lain yang menginfeksi manusia. Akibatnya, antibodi pasien mungkin memiliki kekebalan yang sudah ada sebelumnya terhadap domain S2 karena paparan virus korona umum lainnya.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts