Epidemiolog Ingatkan Faskes dan Nakes Tak Akan Siap Jika Kasus Melonjak Imbas Pilkada
Nasional
Pilkada 2020

Sudah 8 bulan lebih sejak pandemi ini menyebar pertama kali di Indonesia. Sehingga para tenaga medis maupun dokter tentunya juga sudah lelah dengan semua ini.

WowKeren - Ahli epidemiologi kembali mengingatkan soal potensi lonjakan kasus corona yang diakibatkan pelaksanaan Pilkada serentak. Pilkada Serentak 2020 rencananya akan digelar pada Desember mendatang.

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menilai, fasilitas kesehatan (faskes) dan tenaga kesehatan (nakes) tidak akan siap apabila nantinya terjadi lonjakan kasus. "Kalau kita merujuk pada melakukan hal yang sama ketika positivity rate tinggi ya kita harus siap. Tapi jelas faskes kita tidak siap, nakes kita tidak akan siap," kata dia dilansir Okezone, Sabtu (21/11).

Sudah 8 bulan sejak pandemi ini menyebar pertama kali di Indonesia. Sehingga para tenaga medis dan dokter tentunya juga sudah lelah dengan semua ini. Belum lagi ditambah potensi lonjakan kasus yang disebabkan oleh aksi kerumunan saat demo maupun massa di Petamburan belum lama ini.

"Sudah kelelahan terlalu lama," lanjut Dicky. "Ini kita sama saja menempatkan diri kita pada posisi terpuruk di tambah dengan keramaian Petamburan, demo, dan sebagainya."


Pilkada dinilainya hanya akan memperburuk kondisi penyebaran virus di Tanah Air. "Tidak ada argumen yang kuat untuk serangkaian Pilkada atau keramaian lain yang termasuk libur panjang," ujarnya.

Bahkan di Indonesia sendiri, pandemi masih belum memunculkan tanda-tanda akan menuju puncak. Kasus corona di Tanah Air masih bersifat fluktuatif.

Dicky menilai jika tidak berhasil melandainya kurva penyebaran COVID-19 karena masyarakat tidak merata dalam memahami pentingnya penerapan prokes. Selain itu, masih banyak juga daerah-daerah yang belum sepenuhnya paham pentingnya upaya 3T dalam menekan penyebaran kasus.

Semakin banyak kegiatan yang memancing kerumunan maka akan memperburuk penyebaran virus. Meskipun dilakukan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan namun akan sangat sulit untuk mengejar ketertinggalan terhadap laju penyebaran.

"Sesuai dengan studi epidemiologi yang makin banyak itu akan memperburuk situasi pandemi walaupun dilakukan dengan protokol kesehatan," tegas Dicky. "Karena antara laju penyebaran dengan adanya keramaian walaupun melakukan 3M sekaligus tidak akan terkejar."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts