Ramai Dijual Mahal, Meteorit Ternyata Sudah Dipakai Sejak Dulu untuk Pembuatan Keris
Nasional

Ahli pembuat keris Empu Totok Brojodiningrat mengatakan jika leluhur bangsa Indonesia sudah mengenal meteorit sejak sebelum abad ke-6. Hal itu bisa dilihat pada benda peninggalan sejarah.

WowKeren - Peristiwa jatuhnya batu meteorit di Tapanuli Utara, Sumatera Selatan masih ramai menjadi perbincangan di jagat maya. Batu dari luar angkasa itu disebut-sebut bernilai tinggi bahkan diklaim berharga puluhan miliar rupiah.

Namun siapa sangka jika batu langka ini rupanya sudah dikenal oleh nenek moyang sejak zaman dahulu kala? Zaman dulu, batu meteor dipakai untuk pembuatan keris.

Ahli pembuat keris Empu Totok Brojodiningrat mengatakan jika leluhur bangsa Indonesia sudah mengenal meteorit sejak sebelum abad ke-6. Hal itu bisa dilihat pada peninggalan sejarah masa lampau.

"Meteorit sudah dikenal oleh leluhur kita dari sebelum abad ke-6," kata Totok dilansir Detik, Sabtu (21/11). "Hal ini bisa ditemui pada artefak keris zaman Mataram Hindu, zaman Purwacarita, dan seterusnya."


Zaman Purwacitra merupakan zaman pra sejarah ketika orang belum mengenal tulisan untuk mencatat suatu peristiwa. Namun masyarakat Jawa zaman dulu rupanya sudah paham jika meteorit adalah barang berharga yang bisa diolah menjadi mahakarya. Tak cukup sampai di situ, pembuat keris zaman dulu bahkan sudah memiliki prediksi kapan meteor akan datang.

"Bahkan seorang empu zaman dahulu sudah mengerti tanda-tanda benda langit ini kapan akan jatuh," kata pria yang akrab disapa Ki Totok ini. "Misalnya Empu Gandring menunggui meteorit yang akan jatuh di Padang Karautan."

Meteorit dijadikan sebagai bahan baku untuk pembuatan keris karya empu Gandring. Keris legendaris ini dipakai oleh Ken Arok, pendiri kerajaan Singosari, untuk menikam Empu Gandring, sang pembuatnya. Keris ini juga mampu menembus kekebalan ilmu sang penguasa Tumapel.

"Dari campuran meteorit itu tercipta keris yang sangat ampuh," ujarnya melanjutkan. "Yang mampu menembus kekebalan ilmu Tunggul Ametung, penguasa Tumapel di tlatah Jawa Timur.

Sebelumnya terkait batu meteorit ini, Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) memberikan tanggapan. Peneliti LAPAN Andi Pangerang mengatakan, dari sisi sains, meteorit tersebut tidak istimewa.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts