Berharap Indonesia Bisa Jadi Sentra Vaksin Corona Untuk ASEAN, Erick Thohir Lakukan Ini
Instagram/erickthohir
Nasional
Vaksin COVID-19

Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui PT Bio Farma (Persero) sebagai perusahaan Indonesia berkualitas untuk memproduksi vaksin.

WowKeren - Indonesia diketahui tengah mengembangkan vaksin virus corona (COVID-19) secara mandiri yang bernama Vaksin Merah Putih. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pun menegaskan bahwa pemerintah serius menggarap produksi Vaksin Merah Putih.

Pemerintah juga disebut tengah berupaya mengimpor bahan baku vaksin atau vaksin COVID-19 dalam bentuk jadi dari luar negeri. Menurut Erick, impor bahan baku vaksin dan vaksin jadi tersebut adalah langkah jarak pendek pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi corona.

"Saya rasa kita tidak bisa melihat ini hanya jangka pendek, tapi juga jangka panjang," tutur Erick dilansir Metro TV pada Jumat (20/11). "Berarti tidak mungkin kita impor terus apalagi kita Indonesia punya kapabilitas memproduksi vaksin."

Lebih lanjut, Erick menyatakan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui PT Bio Farma (Persero) sebagai perusahaan Indonesia berkualitas untuk memproduksi vaksin. Selain itu, WHO juga memperkirakan bahwa kebutuhan vaksin corona selama tiga tahun ke depan mencapai 16 miliar dosis.


Adapun total kapasitas produksi vaksin seluruh dunia yang sekitar 4 miliar dosis. Dengan demikian, ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mampu menjadi produsen vaksin COVID-19. Erick pun menyampaikan keinginannya untuk membuat Indonesia sebagai sentra vaksin bagi Asia Tenggara.

"Kami dari Kementerian BUMN ingin sekali kita menjadi sentra vaksin buat Asia Tenggara atau lebih besar dari Asia Tenggara," terang Erick. "Ini menjadi kesempatan kita karena selama ini Bio Farma karena sudah punya di 15 sampai 150 negara yang untuk vaksin polio."

Selain itu, produksi vaksin lokal juga akan berguna bagi masyarakat mengingat jumlah populasi Indonesia yang besar. Erick menegaskan bahwa produk Vaksin Merah Putih akan diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri, dan sisanya baru akan diekspor ke luar negeri.

Adapun salah satu upaya Erick dalam menjadi Indonesia sebagai sentri vaksin Asia Tenggara adalah dengan meningkatkan kapasitas produksi Bio Farma dari 100 juta dosis menjadi 250 juta dosis. Erick bahkan memprediksi kapasitas tersebut bisa dinaikkan menjadi 500 juta hingga 750 juta apabila digabungkan dengan kapasitas dari perusahaan swasta hingga fasilitas TNI/Polri di Indonesia.

Dengan angka yang telah melebihi jumlah penduduk Indonesia, maka impor vaksin sejatinya sudah tak diperlukan lagi. "Saya yakin kalau vaksin merah putih jadi, banyak negara Asia Tenggara ingin kerja sama uji klinis, kita akan jadi sentra vaksin covid di Asia Tenggara," pungkasnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts