Mirip Bunglon, Tanaman Obat Ini Bisa Berkamuflase untuk Sembunyi dari Manusia
SerbaSerbi

Uniknya, saat para ahli meneliti perubahan warna tanaman, ditemukan jika tanaman yang tetap bertahan pada warna gelap mereka terletak di area yang paling banyak dipanen.

WowKeren - Selama ini, makhluk yang dikenal memiliki kepiawaian dalam berkamuflase menyerupai lingkungan sekitarnya adalah bunglon. Namun, baru-baru ini ditemukan jika keahlian menyamar tersebut juga dimiliki oleh tumbuhan.

Di Tiongkok, ada satu tanaman yang tumbuh di lereng bukit bernama ilmiah Fritillaria delavayi. Tanaman yang memiliki bunga berwarna hijau cerah ini disebut-sebut telah berevolusi untuk bisa menyamar menyatu dengan lingkungannya.

Bunga ini telah dipanen oleh manusia untuk tujuan pengobatan sejak 2.000 tahun yang lalu. Studi terbaru menyebut jika tujuan bunga ini berubah menjadi coklat adalah untuk menyamarkan dri dari manusia.

Tanaman berwarna coklat keabu-abuan ini menghasilkan bunga hijau setiap lima tahun sekali. Dilansir Live Science, Senin (30/11), para peneliti menyebut jika secara bertahap bunga ini kehilangan warna matang cerahnya sebagai ganti rona yang lebih halus.


Hal ini diyakini sebagai mekanisme pertahanan yang dikembangkan oleh tanaman untuk bersembunyi dari tangan manusia. Salah satu peneliti yang ikut menulis laporan itu, Yang Niu, mulanya mengira jika perilaku tersebut didorong oleh ancaman dari herbivora.

"Seperti tumbuhan lain yang bisa menyamar yang telah kami pelajari, kami mengira evolusi kamuflase fritillary ini didorong oleh herbivora," kata dia. "Tetapi kami tidak menemukan hewan semacam itu. Kemudian kami menyadari bahwa manusia bisa menjadi penyebabnya."

Tumbuhan ini banyak ditemui di tengah lanskap berbatu di pegunungan Hengduan China dan sebagian Nepal. Umbi tanaman ini dipercaya berkhasiat untuk mengobati batuk dan penyakit pernapasan lainnya.

Uniknya, saat para ahli meneliti perubahan warna tanaman dengan mewawancarai penduduk setempat, ditemukan jika tanaman yang tetap mempertahankan diri pada warna gelapnya terletak di area yang paling banyak dipanen. Ini menunjukkan ada korelasi langsung antara pewarnaan tanaman dan intervensi manusia.

Sungguh luar biasa melihat bagaimana manusia dapat memiliki dampak langsung dan dramatis pada pewarnaan organisme liar," kata rekan penulis Martin Stevens, peneliti dari Pusat Ekologi dan Konservasi di Kampus Penryn Exeter di Cornwall. "Tidak hanya pada kelangsungan hidup mereka tetapi pada evolusinya sendiri."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts