Stigma Negatif Pasien COVID-19 Disebut Bikin Angka Kematian Indonesia Tinggi, Ini Penjelasannya
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Selain itu, Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, juga menilai bahwa angka kematian akibat corona sangat dipengaruhi oleh pelayanan di fasilitas kesehatan.

WowKeren - Kasus kematian akibat virus corona (COVID-19) dapat terbilang cukup tinggi. Per Jumat (4/12) 17.479 pasien COVID-19 di Tanah Air dilaporkan meninggal dunia, angka ini mencapai 3,1 persen dari jumlah kasus positif keseluruhan. Padahal tingkat kematian COVID-19 global berada di angka 2,32 persen.

Menurut Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, salah satu penyebab tingginya kasus kematian di Indonesia adalah stigma negatif terhadap pasien corona. Juru Bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito, mengungkapkan bahwa masih banyak warga yang takuti menjalani tes COVID-19 karena khawatir hasilnya positif. Padahal jika dibiarkan, pasien tersebut bisa saja memiliki gejala berat hingga meninggal.

"Stigma negatif seperti, 'Oh, COVID-19, ya?' orang lebih baik enggak ngaku COVID-19 daripada ngaku," tutur Wiku pada Jumat kemarin. "Testing, tracing, itu jadi masalah karena ada stigma negatif, padahal pemerintah itu pengen nolong. Cepat kalau betulan COVID, segera dirawat. Enggak usah malu."

Lebih lanjut, Wiku menyebutkan bahwa stigma negatif membuat orang yang hendak memeriksakan diri ke rumah sakit terkait COVID-19 jadi mengurungkan niatnya. Padahal semakin cepat COVID-19 terdeteksi, maka makin besar potensinya untuk sembuh.


Selain itu, Wiku juga menilai bahwa angka kematian sangat dipengaruhi oleh pelayanan di fasilitas kesehatan. Apabila banyak pasien dengan gejala berat yang datang, maka fasilitas kesehatan bisa kewalahan.

"Ke rumah sakitnya lambat sekali. Terakhir kalau sudah terpaksa, baru ke rumah sakit," ujar Wiku. "Tapi kalau enggak ada stigma negatif, dia ada gejala langsung periksa, langsung dirawat. Kalau dia cepat dirawat, otomatis ditangani lebih awal dia bisa cepat sembuh."

Apabila pasien mendapat penanganan lebih cepat, maka angka kematian akibat COVID-19 di Indonesia dapat semakin rendah. "Angka kematian itu akan tinggi apabila pelayanan di rumah sakit tidak mampu menyembuhkan mereka," pungkas Wiku.

Di sisi lain, Wiku juga sempat mengakui bahwa komunikasi yang dibangun oleh pemerintah ke masyarakat selama ini belum efektif. Hal ini terlihat dari adanya masyarakat yang tidak percaya terhadap corona hingga saat ini, bahkan di Jakarta yang merupakan Ibu Kota Indonesia.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts