Waspada Wabah Corona Makin Parah, IDI Ingatkan 3 Agenda Penyebab 'Panen Raya' di Depan Mata
Nasional
COVID-19 di Indonesia

IDI mengungkap 3 agenda besar yang berpotensi menjadi penyebab klaster COVID-19 baru di Indonesia. IDI pun menyarankan pemerintah untuk mengevaluasi potensi itu.

WowKeren - Indonesia baru saja mencatatkan lonjakan kasus positif COVID-19 pada pekan ini. Namun tampaknya sejumlah pihak mengkhawatirkan akan kembali terjadi lonjakan kasus positif karena ada 3 agenda besar yang menjadi penyebab "panen raya".

Hal ini seperti disampaikan oleh Ketua Satuan Tugas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban. Ketiga agenda yang dimaksud Zubairi sendiri adalah Pilkada, libur akhir tahun, serta pembukaan kembali sekolah tatap muka pada awal 2021.

Karena itulah, Zubairi mendorong pemerintah untuk mengevaluasi kembali kebijakan ketiga agenda tersebut. "Ini soal nyawa rakyat, sebelum semua kian memburuk," kata Zubairi, Sabtu (5/12).

Zubairi pun menyarankan agar salah satu agenda tidak dilanjutkan, seperti misalnya pembukaan sekolah tatap muka apabila Pilkada tetap berlangsung. Sebab ada risiko penularan COVID-19 secara total jika sejumlah kegiatan berisiko seperti itu dilakukan hampir bersamaan.


"Bila Pilkada lanjut, ya sekolah tatap muka jangan dibuka awal Januari, agar risiko peningkatan penularan secara total," ujar Zubairi. "Yakni gabungan Pilkada, libur panjang, sekolah tatap muka tidak terjadi."

Di sisi lain, rencana untuk ketiga agenda tersebut tetap berlanjut. Pilkada 2020 semestinya digelar pada 9 Desember 2020 mendatang meski terus dikhawatirkan dapat memicu klaster penyebaran COVID-19 baru.

Kekhawatiran kian memuncak usai Komisi Pemilihan Umum (KPU) membuat rencana petugas KPPS bisa masuk untuk "menjemput" suara dari pasien COVID-19. Sedangkan untuk rencana libur panjang akhir tahun sudah dievaluasi pemerintah dan berbuntut pemangkasan jumlah harinya.

Sementara itu, untuk wacana sekolah tatap muka pada 2021 mendatang masih menjadi perdebatan. Kecemasan orangtua akan kesehatan putra-putrinya di sekolah membuat banyak aspirasi yang meminta rencana PTM dibatalkan.

Kekhawatiran tidak hanya datang dari orangtua dan wali murid, tetapi juga dari mahasiswa yang akan mengikuti kuliah tatap muka. Menanggapinya, Dirjen Dikti Kemendikbud Prof Nizam menegaskan mahasiswa yang enggan mengikuti kuliah tatap muka bisa mengakses layanan kuliah daring seperti biasa.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts