Bos Twitter Jack Dorsey Akhirnya Buka Suara Usai Tutup Permanen Akun Trump
Dunia

Twitter secara permanen menutup akun milik Donald Trump pada hari Jumat (8/1) setelah menguncinya beberapa jam karena telah melanggar aturan kebijakan privasinya.

WowKeren - CEO Twitter Jack Dorsey akhirnya buka suara usai platformnya untuk permanen akun milik Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dorsey menyebut bahwa ia sepenuhnya yakin bahwa hal tersebut adalah keputusan yang sangat tepat. "Saya yakin ini adalah keputusan yang tepat untuk Twitter," cuit Dorsey.

Dorsey juga menyoroti bagaimana perusahaan media sosial mencoba untuk menyeimbangkan kepentingan yang berbeda, saat mereka menghadapi pengawasan yang cermat terhadap konten ofensif. "Kami menghadapi keadaan yang luar biasa dan tidak dapat dipertahankan, memaksa kami untuk memfokuskan semua kebijakan untuk keselamatan publik. Kerusakan yang terjadi secara nyata mendorong kebijakan dan penegakan kami di dunia maya," cuitnya lagi.

Dalam 13 utasnya, Dorsey mengatakan bahwa keadaan luar biasa tersebut tidak bisa dipertahankan, setelah Trump menghasut kerusuhan di US Capitol Jumat pekan lalu. Sebagaimana diketahui, pada Rabu (6/1) lalu massa pendukung Trump menyerbu Capitol Hill dan menyebabkan kerusuhan.

Di sisi lain, selama empat tahun belakangan, Twitter memang menjadi pusat aktivitas media sosial Trump saat menjadi Presiden. Twitter mengambil pendekatan perlahan untuk memoderasi akunnya, karena Trump kerap banyak berkomentar dan sebagai pejabat publik Trump harus diberi kebebasan untuk berbicara.


Twitter secara permanen menutup akun Trump pada hari Jumat (8/1) setelah menguncinya beberapa jam karena telah melanggar aturan kebijakan privasinya. Meskipun ada seruan dari warganet untuk memblokir Trump dari Twitter sejak awal-awal menjadi presiden menggantikan Barrack Obama, namun paltform bersimbol burung biru itu hanya memberikan label di beberapa pernyataan Trump ketimbang harus menutupnya demi kepentingan publik.

Beberapa twit Trump telah melanggar aturan yang mendukung kekerasan yang berakibat penutupan secara permanen. Dalam satu cuitannya, Trump mengatakan tidak akan menghadiri pelantikan Presiden terpilih, Joe Biden pada 20 Januari 2021 mendatang.

Di cuitan lainnya, Ia juga menyebut pendukungnya sebagai "American Patriots" yang memiliki suara panjang jika diperlakukan secara tidak adil dalam bentuk apapun.

Keputusan untuk menutup akun Twitter berdampak Trump kehilangan akses kepada 88 juta pengikutnya.

Sementara itu, langkah memblokir kegiatan media sosial Trump bukan hanya dilakukan Twitter saja. Belakangan perusahaan teknologi lain seperti Instagram, Facebook, Youtube hingga Snapchat juga menutup akun Trump.

Terlepas dari hal tersebut, hingga kini Gedung putih tidak memberikan komentar terkait kritik Trump yang telah diblokir oleh berbagai platform media sosial.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts