Imbau Putrinya Tak Ikut Pilpres Filipina, Duterte Sebut Presiden Bukan Pekerjaan untuk Wanita
Reuters/Lean Daval Jr
Dunia

Dalam pidatonya pada Kamis (14/1), Duterte menyatakan bahwa putrinya yang kini menjabat sebagai Wali Kota Davao, Sara Duterte, 'tidak akan' maju dalam Pilpres Filipina selanjutnya.

WowKeren - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengimbau putrinya untuk maju dalam Pilpres Filipina 2022. Duterte bahkan menyebut bahwa Presiden "bukanlah pekerjaan yang cocok bagi wanita".

Dalam pidatonya pada Kamis (14/1), Duterte menyatakan bahwa putrinya yang kini menjabat sebagai Wali Kota Davao, Sara Duterte, "tidak akan" maju dalam Pilpres Filipina selanjutnya. Padahal, survei terbaru yang dilakukan oleh Pulse Asia Research Inc. menunjukkan bahwa Sara merupakan kandidat kuat pengganti Duterte.

Sara sendiri merupakan ketua aliansi partai politik. Ia menjadi sorotan nasional pada 2019 saat berkampanye untuk kandidat Senat, yang sebagian besar menang.

"Saya kasihan padanya," ujar Duterte dalam peresmian jalan layang di Ibu Kota. "Dia akan melalui apa yang saya alami."

Lebih lanjut, Duterte menyebut bahwa jabatan Presiden bukan untuk seorang wanita. Pasalnya, Duterte menilai ada perbedaan emosional antara perempuan dan pria.


"Ini bukan untuk wanita. Anda tahu, keadaan emosional seorang wanita dan pria sama sekali berbeda," kata pria berusia 75 tahun tersebut. "Anda akan menjadi bodoh di sini. Jadi, itulah kisah sedihnya."

Padahal, Filipina sendiri sebelumnya telah memiliki dua Presiden wanita. Yang pertama adalah Corazon Aquino yang menjabat dari 1986 hingga 1992, kemudian yang kedua adalah Gloria Macapagal Arroyo yang menjabat dari 2001 hingga 2010.

Diketahui, Duterte memang terkenal karena komentarnya yang sering dianggap menyinggung, seksis dan keras. Meski demikian, pegawai di kantor kepresidenan Filipina menilai hal itu sebagai lelucon yang tidak berbahaya.

Di sisi lain, Duterte juga sempat menyatakan bahwa dirinya tidak berniat untuk memperpanjang masa jabatan enam tahunnya. Melansir Bloomberg, kubu Duterte di Kongres telah berupaya untuk merevisi Konstitusi, yang disahkan setelah penggulingan mantan diktator Ferdinand Marcos pada tahun 1986.

Sebagai informasi, Presiden Filipina hanya bisa terpilih satu kali dengan masa jabatan enam tahun. "Bahkan jika Anda menyajikannya kepada saya di atas piring perak atau memberi saya 10 tahun (masa jabatan) lagi secara gratis, saya sudah selesai," pungkas Duterte.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts