Gempa Majene Disebut Pengulangan Bencana Tahun 1969, Ini Sejarahnya
Nasional
Gempa Majene Sulbar

Gempa bumi yang terjadi di Majene, Sulawesi Barat disebut berpotensi tsunami dan disamakan dengan bencana tahun 1969. Begini sejarah gempa di tahun 1969 silam.

WowKeren - Indonesia kembali dilanda duka akibat bencana alam gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene, Sulawesi Barat pada Kamis (14/1) dan Jumat (15/1). Gempa itu dilaporkan telah menewaskan puluhan orang.

BMKG telah memperingatkan jika terjadi gempa susulan di wilayah itu, maka berpotensi menimbulkan tsunami. Warga di Mamuju dan Majene pun diminta untuk tetap waspada jika terjadi guncangan gempa lagi yang berasal dari laut.

BMKG juga menyebut jika gempa di Majene saat ini dapat menjadi pengulangan seperti gempa yang terjadi di lautan pada 1969 silam. Dalam gempa Majene pada 23 Februari 1969, guncangan kuat di pantai barat Sulawesi telah menewaskan ratusan jiwa warga di Majene.

”Apa yang terjadi di Majene saat ini berkaitan dengan pengulangan gempa di wilayah sana,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono dalam jumpa pers online pada Jumat (15/1). “Pada 1969, sekitar tanggal 23 Februari, dibangkitkan sumber gempa yang sama, yaitu dengan kekuatan 6,9 pada kedalaman 13 km.”


Berdasarkan laporan dari Survei Geologi Amerika Serikat (United States Geological Survey/USGS), gempa itu juga telah menyebabkan tsunami. “Pers melaporkan bahwa tsunami telah merenggut 600 korban jiwa,” tulis USGS.

Sejarah gempa bumi pada 1969 silam itu terjadi pada pukul 08.36 waktu setempat. Pusat gempa berada di lautan pada koordinat 3,1 Lintang Selatan dan 118,9 Bujur Timur. Kedalaman pusat gempa adalah 13 km.

Gempa tersebut langsung menewaskan 64 orang, dan 97 orang mengalami luka-luka. Sedangkan laporan 600 korban jiwa kemungkinan merupakan hasil penambahan dari korban jiwa akibat gempa sekaligus akibat tsunami.

Kala itu, 1.287 bangunan rusak di Majene dan sekitarnya. Kebanyakan bangunan yang rusak ada di pedesaan karena konstruksi yang salah. Bangunan yang rusak berada di lokasi tanah aluvial, bukan di lapisan bebatuan atau tanah yang stabil.

Gempa juga menyebabkan tanah retak muncul di sejumlah tempat. Setelah gempa, tsunami datang menghantam Majene dengan ketinggian mencapai 4 meter. Bencanan itu langsung menyapu desa-desa sepanjang pantai utara Majene. “Sejumlah rumah di ujung teluk tersapu oleh ombak,” tulis USGS.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts