Ekonom Rizal Ramli Sebut Indonesia Berpotensi Alami Krisis Ekonomi yang Lebih Gawat Dibanding 1998
Nasional
Potensi Resesi Imbas COVID-19

Ekonom Rizal Ramli mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai kemungkinan krisis ekonomi hebat yang bisa lebih parah jika dibandingkan dengan tahun 1998. Simak penuturan lengkapnya berikut ini.

WowKeren - Ekonom kondang Rizal Ramli muncul sebagai pembicara dalam siaran YouTube Bravos Radio Indonesia pada Jumat (15/1). Dalam kesempatan ini, ia mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai kemungkinan krisis ekonomi yang hebat di tahun 2021.

Menurutnya ada beberapa faktor yang dapat memicu krisis tersebut, khususnya karena pandemi virus Corona dan likuiditas keuangan. Jika pemerintah tidak berhati-hati, Rizal menyebut Indonesia bisa terjatuh ke dalam krisis ekonomi yang jauh lebih parah jika dibandingkan dengan tahun 1998.

Mantan Kepala Bulog ini mengatakan bahwa saat krisis ekonomi tahun 1998 terjadi, masyarakat di luar Pulau Jawa masih berjaya karena menikmati keuntungan dari penjualan komoditas perkebunan. Namun dalam krisis kali ini, banyak masyarakat di Jawa maupun luar Pulau Jawa yang kesulitan akibat kehilangan pekerjaan.

"Tahun ini ada krisis yang mungkin akan lebih gawat dari tahun 1998. Krisis '98 rakyat di luar Jawa masih senang karena kurs rupiah dari Rp 2500 anjlok tiba-tiba menjadi Rp 15 ribu. Mereka bisa ekspor karet, kopi, kopra, untungnya lima sampai enam kali. Orang di luar Jawa kaya raya meski di Jawa susah," tutur Rizal Ramli melalui siaran YouTube Bravos Radio Indonesia.


"Susahnya orang di Jawa dan luar Jawa sama. Sederhana saja, 70 persen mahasiswa Indonesia, Jawa dan luar Jawa, kagak mampu bayar uang kuliah. Ini saja pemerintah kagak becus beresin. Tentu ada faktor selain ekonomi, ada sosial dan politis," imbuhnya.

Karena itulah Rizal berharap agar Presiden Joko Widodo dapat mengatasi krisis dengan sebaik mungkin jika ingin pemerintahannya tetap stabil. "Krisis dan peluang adalah dua dari satu mata uang yang sama. Jadi, pemerintah bisa memanfaatkan krisis ini menjadi peluang jika kepemimpinannya benar-benar baik," jelasnya.

Terakhir, Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman ini menyebut krisis sebagai ujian kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa dalam sejarah Republik Indonesia, ada dua Presiden yang mundur karena krisis ekonomi. "Kita lihat sejarah Indonesia, Bung Karno (Ir Soekarno) jatuh karena krisis ekonomi, Soeharto juga. Jadi sesuatu besar terjadi di Indonesia karena krisis ekonomi," pungkasnya.

(wk/eval)

You can share this post!

Related Posts