Hampir Sebulan Menjabat, IDI Nilai Menkes Budi Belum Bisa Kendalikan Angka Kasus COVID-19
Kementerian BUMN
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Ketum PB IDI Daeng M Faqih memuji akselerasi program vaksinasi di bawah komando Menkes Budi Gunadi Sadikin. Namun sang Menkes masih belum bisa mengurangi angka kasus positif.

WowKeren - Presiden Joko Widodo resmi melantik Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan pada 23 Desember 2020 kemarin. Dengan demikian, belum ada satu bulan Budi Gunadi menjabat dan terus bekerja di bawah sorotan masyarakat Indonesia.

Termasuk di antaranya Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng M Faqih, yang menyoroti kinerja Budi Gunadi dari segi pengendalian angka kasus positif COVID-19. Dalam perspektif Faqih, sang mantan Wakil Menteri BUMN belum bisa menangani kasus COVID-19 yang terbukti dari ledakan angka kasus positif setiap harinya.

Namun Faqih pun tak menampik, Budi Gunadi sudah bekerja dengan sangat maksimal dalam proses vaksinasi yang telah dimulai pada Rabu (13/1) kemarin. "Saya mendapatkan informasi kalau Menkes ini mendapatkan prioritas dari Presiden itu hanya dua yaitu sukseskan vaksinasi dan penanganan COVID-19," kata Faqih, Sabtu (16/1).

"Saya lihat ada akselerasi masalah di vaksinasi," imbuh Faqih dalam sebuah diskusi daring, dilansir dari Republika. "Tapi penanganan untuk menekan laju infeksi COVID-19 masih belum karena terus meningkat."


Terkait hal ini, diterangkan Faqih, juga akibat belum adanya obat untuk menyembuhkan COVID-19. Selain itu, protokol kesehatan secara budaya belum bisa membendung dan malah membuat kasus semakin tinggi. Alhasil saat ini vaksin yang menjadi satu-satunya solusi pengendalian wabah.

Faqih juga menyoroti sikap masyarakat yang sudah mendapat beragam imbauan untuk disiplin protokol kesehatan namun sangat sulit terlaksana karena budaya yang terbiasa bersosialisasi. Karena itulah, Faqih lantas menyarankan untuk pentingnya bekerja sama, saling berkoordinasi, antara pemerintah dan masyarakat demi menanggulangi COVID-19.

"Pejabat publik yang mengambil keputusan harus banyak baca jurnal ilmiah untuk mengatasi COVID-19. Lalu, masyarakat pun sama harus mengakses informasi dari sumber yang terpercaya," kata Faqih. "Ya contohnya berawal dari atas dulu (pejabat) agar bawahnya (masyarakat) mengikuti."

Penambahan jumlah kasus positif yang kian mengerikan memang terus terjadi di Indonesia. Pekan ini Indonesia konsisten mencatatkan angka kasus positif COVID-19 di atas 10 ribu, dengan rekor tertinggi adalah Sabtu (16/1) hari ini, yakni sebanyak 14.224 kasus.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts