CVR Black Box Sriwijaya Air SJ182 Masih Raib, Bisakah Penyebab Kecelakaan Terungkap?
Nasional
Sriwijaya Air Hilang Kontak

Masuk hari pencarian ke-10, CVR dari Sriwijaya Air SJ182 masih belum ditemukan, padahal datanya diperlukan untuk membantu investigasi penyebab jatuhnya pesawat tersebut.

WowKeren - Basarnas memutuskan memperpanjang masa pencarian dan evakuasi Sriwijaya Air SJ182 hingga Kamis (21/1) besok. Selain demi alasan kemanusiaan, tim gabungan pun saat ini tengah berjuang untuk menemukan bagian penting dari cockpit voice recorder (CVR) black box pesawat nahas tersebut.

Lantas bagaimana jika sampai akhir masa operasi evakuasi CVR itu tak ditemukan? Apakah kemudian upaya pengungkapan penyebab kecelakaan ini menjadi terhambat?

Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pun angkat bicara soal kekhawatiran tersebut. Dijelaskan Juru Bicara KNKT Indrianto, baik Flight Data Recorder (FDR) maupun CVR merupakan komponen penting yang diperlukan untuk mengungkap penyebab kecelakaan.

"Keduanya bersifat saling melengkapi bukan menggantikan," tegas Indrianto, dilansir dari BBC News Indonesia, Selasa (19/1). Kendati demikian, dijelaskan mantan Ketua KNKT Tatang Kurniadi, laporan investigasi bisa saja hanya berasal dari analisis FDR tanpa bukti CVR.

Hal ini menjadikan investigasinya selayaknya melihat film bisu. "Gerakannya ada tapi suaranya nggak tahu," tutur Tatang, kemudian mencontohkan dengan investigasi jatuhnya Adam Air pada 2007 silam.


"Kayak di Adam Air itu delapan bulan di dalam air masih bisa ketemu. Siapa tahu untung-untungan. Jadi kalau investigator sehingga sesempurna kalau itu ada. Tapi laporan ini bisa jalan. Nah, mereka yang menerima laporan juga mestinya baca bahwa CVR-nya nggak ketemu," jelas Tatang.

Tatang tak menampik, lokasi jatuhnya pesawat di lautan membuat pencarian FDR dan CVR menjadi sulit. Hal ini seperti disampaikan pula oleh Juru Bicara Basarnas, Agus Basori, yang menyebut timnya kesulitan menemukan modul memori CVR karena terhalang cuaca hujan, arus laut, pencarian yang manual, serta tidak adanya alat pelacak pada komponen yang bersangkutan.

"Ya teman-teman di bawah itu, pakai tangan ambilnya. Meraba-rabanya pakai tangan. Kesulitannya di situ," ujar Agus. "Karena sudah tak ada finger-nya itu, casing-nya juga tidak ada."

Namun, memangnya seberapa penting CVR untuk investigasi sebuah kecelakaan pesawat? Pengamat dan praktisi penerbangan Alvin Lie menegaskan kembali soal keselarasan data CVR terhadap FDR.

"Sehingga perubahan-perubahan pada peralatan pesawat, misalnya ketika putaran mesin ditinggikan suaranya, ada atau tidak, untuk cek responsif. Dengar atau tidak," papar Alvin.

"Kalau tanpa CVR tentunya tidak akan lengkap karena yang dimiliki KNKT hanya data teknis, aspek teknis dari pesawat itu sendiri, sedangkan aspek human itu tidak ada," imbuhnya. "Sehingga kalau gambar itu ada bagian yang masih kosong, belum terisi gambarnya."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts