Wajib Jilbab Siswi Nonmuslim di Padang Sudah Ada Sejak Lama, Ternyata Karena Alasan Tak Terduga Ini
Nasional

Eks Wali Kota Padang, Fauzi Bahar, mengaku kewajiban memakai jilbab untuk semua siswi, termasuk yang nonmuslim, dibuat di era kepemimpinannya pada 2004 lalu karena alasan mengejutkan ini.

WowKeren - Baru-baru ini Indonesia digegerkan dengan viral seorang siswi nonmuslim di SMKN 2 Padang, Sumatera Barat, yang dipaksa berjilbab. Kejadian ini pun langsung menjadi sorotan nasional dan menuai beragam tanggapan, bahkan ancaman pemecatan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

Di tengah kemelut itu, terungkaplah fakta bahwa kewajiban siswi memakai jilbab ini sudah ada sejak lama. Hal ini seperti disampaikan oleh mantan Wali Kota Padang, Fauzi Bahar, yang menyebut aturan itu dibuat ketika ia masih menjabat.

Fauzi menegaskan bahwa aturan yang dibuatnya tidak keliru meski belakangan dicap intoleran dan menuai polemik. Perihal perseteruan antara Wakil Kepala SMKN 2 Padang dengan wali siswi yang bersangkutan pun, menurut Fauzi, sebatas miskomunikasi biasa.

Karena itulah, Fauzi mengaku akan menjadi garda terdepan bila sampai aturan kewajiban memakai jilbab itu hendak diubah. "Kalau aturan itu mau diubah, saya orang pertama yang akan menentang terlebih dahulu," tegas Fauzi, dikutip dari Bizlaw, Selasa (26/1).

Fauzi menilai perubahan kewajiban memakai jilbab untuk siswi Padang bisa memengaruhi siswi-siswi Muslim di sana. "Hanya karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Tidak mau saya karena memperjuangkan segelintir orang ini, akan rusak generasi kita," ujar Fauzi.


"Masa generasi kita dikorbankan hanya karena segelintir orang," imbuhnya. "Nanti mereka dibebaskan tidak menggunakan jilbab, malah generasi kita ikut-ikutan tidak menggunakan jilbab. Saya menentang keras itu."

Lantas apa sebenarnya faedah diterapkannya kewajiban berjilbab untuk siswi di Padang tersebut? Rupanya, menurut Fauzi, kewajiban itu semata-mata demi melindungi siswi dari gigitan nyamuk di ruang kelas.

Dijelaskan oleh Fauzi, yang merumuskan kewajiban berjilbab itu sejak 2004 silam, bila siswi memakai pakaian tertutup lengkap dengan jilbab, maka potensi untuk tergigit nyamuk sangat kecil. Pasalnya kain menutup seluruh tubuh tanpa ada kulit yang terekspos langsung ke udara luar.

"Kami membuat aturan itu dulunya bukan tanpa alasan. Kalau menggunakan pakaian pendek, mereka tidak sadar kalau digigit nyamuk saat belajar. Dengan seluruhnya tertutup, maka hal itu tidak akan terjadi," jelasnya.

Namun, poin penting lain adalah, pemakaian jilbab secara serentak membuat tak adanya perbedaan jenjang sosial di antara seluruh siswi. "Niat kami dengan aturan itu agar terjadi pemerataan dan tidak terlihat siapa yang kaya dan miskin. Karena dengan menggunakan jilbab, perhiasan yang mereka gunakan tidak terlihat," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts