Begini 4 Menit Perjalanan Sriwijaya Air SJ182, Ternyata Sempat Berhadapan dengan Awan Kumulonimbus
Nasional
Sriwijaya Air Hilang Kontak

KNKT, AirNav Indonesia, dan BMKG membeberkan hasil temuan mereka demi memperkirakan penyebab jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 pada 9 Januari 2021 kemarin. Seperti apa?

WowKeren - Sudah 25 hari berlalu sejak insiden nahas jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ182. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan seluruh otoritas terkait terus bekerja mengusut insiden yang menewaskan puluhan orang tersebut, termasuk penyebab jatuhnya pesawat.

Tim penyelidik pada Rabu (3/2) kemarin pun mengungkap 4 menit penerbangan terakhir SJ182 sebelum pesawat itu jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Termasuk fakta yang disampaikan adalah perihal pesawat yang sempat berhadapan dengan masalah cuaca bahkan awan kumulonimbus (CB).

Hal ini seperti disampaikan Direktur Utama Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia alias AirNav, M Pramintohadi Sukarno. Pramintohadi menyebut SJ182 sempat berbelok ke kiri sejauh 075 derajat demi menghindari cuaca, hal ini terjadi sekitar 2 menit setelah lepas landas.

"Pada 14.38, SJ182 meminta arah 075 derajat kepada ATC (Air Traffic Controller) dengan alasan cuaca, dan diizinkan untuk diinstruksikan naik ke ketinggian ke 11.000 kaki," tutur Pramintohadi dalam rapat dengan Komisi V DPR RI, dikutip dari Merdeka, Kamis (4/2). Perintah ini masih direspons oleh SJ182.

Selama proses komunikasi sejak 14.29 sampai 14.36 WIB pun disebutkan tak ada laporan kondisi pesawat yang tak normal. Namun mendadak pada 14.39 pesawat terpantau berbelok ke kiri arah barat laut padahal seharusnya ke kanan 075 derajat. "ATC berusaha memanggil berulang kali sampai 11 kali dibantu oleh penerbangan lain, penerbangan Garuda untuk melakukan komunikasi dengan SJ182 namun tidak ada respons. Demikian terjadi dari 14.36 sampai dengan 14.40," terangnya.


Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono lantas mengungkap pilot sempat mengubah mode autopilot sampai akhirnya kehilangan kendali. "Selanjutnya pesawat mulai berbelok ke kiri secara perlahan sampai pesawat akhirnya menukik ke bawah hingga ke membentur permukaan laut," kata Soerjanto.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga mengungkap temuan mereka. Termasuk soal adanya awan CB di jalur SJ182 usai lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta.

"(Namun) mulai meluruh seiring dengan berkurangnya intensitas hujan dan meningkatnya jarak pandang," ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Namun dalam rute penerbangan itu memang masih ditemui awan CB, berikut suhu puncak awannya yang mencapai rentang -43 sampai -48 derajat Celsius.

Awan itu pun juga berpotensi menyebabkan icing, namun tidak memengaruhi penerbangan SJ182 karena berbeda ketinggian. Sebab berdasarkan data radiosonde tanggal 7-9 Januari 2021, potensi icing di ketinggian 16-27 ribu kaki, sedangkan pesawat terbang di ketinggian 11 ribu kaki.

Fakta lain yang diungkap adalah soal SJ182 yang masih hidup ketika jatuh dan membentur lautan. KNKT juga memastikan dalam catatan perawatan pesawat semua dalam keadaan normal, serta pesawat tak mengalami full stall seperti yang sempat ramai dibahas.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts