Diterapkan Demi Cegah Penularan Corona, Ini Pandangan Masyarakat Soal PPKM Mikro
Nasional
PSBB Corona

PPKM Mikro yang berlaku di tingkat desa/kelurahan ini diharapkan dapat mencegah penyebaran virus corona (COVID-19). Sejumlah warga lantas memberikan pandangan mengenai penerapan PPKM Mikro ini.

WowKeren - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Skala Mikrotelah resmi diterapkan sejak Selasa (9/2) kemarin hingga 22 Februari 2021 mendatang. Adapun PPKM Mikro yang berlaku di tingkat desa/kelurahan ini diharapkan dapat mencegah penyebaran virus corona (COVID-19). Sejumlah warga lantas memberikan pandangan mengenai penerapan PPKM Mikro ini.

Warga Pejaten Timur, Jakarta Selatan, bernama Polo menyambut baik rencana pembentukan posko PPKM di setiap kelurahan. Namun ia memberi catatan bahwa realisasi di lapangan harus benar-benar dijaga. Penerapan PPKM Mikro yang sesuai dengan rencana diharapkan bisa menekan laju penyebaran COVID-19.

"Ya bagus lah cuma kan kemarin juga PSBB, PPKM itu ya orang-orang masih banyak yang enggak pakai masker," ungkap Polo dilansir CNN Indonesia. "Di kereta, meski bangkunya di longkap-longkap tapi yang berdiri kan tetap aja rapat-rapatan."

Sementara itu, seorang pedagang bakso keliling di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Agus, cemas dagangannya tak laku jika ada pembatasan kegiatan di malam hari. Agus sendiri mengaku belum tahu pasti apa saja aturan di PPKM Mikro dan mengiranya akan sama seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).


"Ya paling dagangan saya sepi," kata Agus. "Gimana yah bingung saya juga, ya sepi aja. Ikutin aja."

Sedangkan warga Cinere, Depok, bernama Muhammad Gofur, pesimis bisa mendapatkan penumpang lebih banyak meski aturan kapasitas kantor telah diperlonggar di PPKM Mikro ini. Diketahui, PPKM Mikro mengizinkan 50 persen karyawan bekerja dari kantor, sedangkan pada PPKM sebelumnya hanya 25 persen karyawan yang boleh bekerja dari kantor.

"Kalau saya narik sama," kata Gofur. "Dari pagi sampai jam 8 atau sembilan malam ya segitu-segitu aja, sepi."

Di sisi lain, penerapan PPKM Mikro ini rupanya membuat pakar epidemiologi kebingungan. Pakar Kesehatan Masyarakat dan Ahli Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo mengaku PPKM mikro ini jelas berlawanan dengan prinsip keilmuan.

Menurutnya, PPKM mikro ini terlalu berani karena angka testing dan tracing sangat rendah dan menurun. Jika testing semakin kecil, maka seharusnya PPKM harus semakin ke makro. "Kita testing tracing rendah kok berani-beraninya mikro. Ini bom waktu. Nanti orang-orang yang dianggap aman bisa keluar semaunya. Padahal dia adalah mungkin orang-orang berisiko," jelasnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts