Ada Pasien COVID-19 Hendak Kabur Dari RS Sentosa Kemang Bogor, Alasannya Bikin Merinding
Pixabay
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Salah satu pasien COVID-19 di RS Sentosa Kemang Bogor, berinisial NC (53) dilaporkan mencoba kabur dari ruang isolasi pada Kamis (18/2) lalu. Ia pun mengungkap alasan ini yang membuatnya ingin kabur.

WowKeren - Salah satu pasien COVID-19 di RS Sentosa Kemang Bogor dilaporkan mencoba kabur dari ruang isolasi pada Kamis (18/2) lalu. Pasien COVID-19 berinisial NC (53) itu mencoba kabur dengan cara keluar melalui sebuah jendela kamar di ruang perawatan isolasi.

Dari pengakuan si pasien, ia mencoba kabur setelah melihat sebuah bayangan di ruang tempatnya diisolasi. Komandan Regu Satuan Pengamanan (Danru Satpam) RS Sentosa Encep Setiawan membenarkan peristiwa tersebut.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 23.00 WIB, pada Kamis (18/2). “Ya, awalnya petugas jaga mendapat informasi dari perawat. Bahwa ada suara dan hal mencurigakan di ruang isolasi lantai dua. Lalu kami cek, ternyata ada pasien yang keluar lewat jendela kamar," kata Encep, Jumat (19/2).

Senada, Dirut RS Sentosa Fritz M Rumintjap juga membenarkan terkait usaha pelarian pasien COVID-19 tersebut. Ia menjelaskan bahwa pasien itu sempat menaiki tembok pembatas rumah sakit yang dikelilingi kawat berduri.


"Untungnya, yang bersangkutan itu pada saat meloncati beberapa tatanan sehingga tidak mengalami luka yang cukup serius," jelasnya. "Setelah dia turun ke bawah, yang bersangkutan menaiki tembok pengaman dari rumah sakit dan meloncat ke perumahan warga."

Fritz menjelaskan bahwa petugas keamanan rumah sakit langsung bergerak cepat melakukan pencarian terhadap pasien kabur tersebut. "Patroli yang dilakulan rutin oleh tim kami, Security RS Sentosa, setelah mendapatkan informasi langsung melakukan pencarian untuk mengamankan pasien tersebut dengan tim COVID-19 yang sudah ada dan menggunakan ambulans. Alhamdulillah sekitar 10 sampai 15 menit, yang bersangkutan ditemukan di jalan raya," paparnya.

Terkait pasien yang diduga memiliki gangguan psikis, Fritz pun enggan buka suara. Menurutnya, hal itu diperlukan pemeriksaan lanjutan terkait psikis yang bersangkutan.

"Sementara itu yang kita gali secara anamnesa yang bersangkutan merasakan seperti ada bisikan-bisikan ataupun ada mahluk halus yang mempengaruhi sehingga dia merasa tidak nyaman dengan perasaan tersebut," tandasnya. "Kita tidak tahu, karena harus mengkaji secara akademisi."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts