Banjir Jakarta Disorot Sejumlah Media Asing
Instagram/humasjakfire
Nasional
Fenomena Banjir 2021

Fenomena banjir di Ibu Kota mendapat perhatian dari sejumlah media asing. Media yang berbasis di Singapura, Channel News Asia, menyoroti ribuan warga yang terpaksa mengungsi akibat banjir Jakarta tersebut.

WowKeren - Hujan deras di wilayah Jabodetabek sejak beberapa hari terakhir membuat sejumlah titik di Ibu Kota turut terendam banjir. Hingga Sabtu (20/2) sore ini, wilayah seperti Kampung Melayu di Jakarta Timur, Kemang di Jakarta Selatan, dan perumahan Mutiara Kedoya di Jakarta Barat masih terendam air.

Fenomena banjir di Ibu Kota ini lantas mendapat perhatian dari sejumlah media asing. Media yang berbasis di Singapura, Channel News Asia (CNA), menyoroti ribuan warga yang terpaksa mengungsi akibat banjir Jakarta tersebut.

"Jakarta slammed by monsoon floods, more than 1,000 forced to evacuate," demikian judul artikel CNA. "Jakarta dilanda banjir monsun, lebih dari 1.000 orang terpaksa mengungsi," demikian terjemahan judul artikel tersebut.

Dalam artikelnya, CNA menyebutkan bahwa banjir Ibu Kota ini datang di saat Indonesia berjibaku dengan pandemi corona. "Banjir datang pada saat Indonesia sudah bergulat dengan beban kasus serta penghitungan kematian COVID-19 tertinggi di Asia Tenggara dan resesi ekonomi," tulis CNA dikutip pada Sabtu (20/2).


Selain itu, CNA juga mengutip pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Dalam pernyataannya, Anies menyebut bahwa air dari daerah lain masih membuat Jakarta kebanjiran meski hujan telah berhenti.

"200 lingkungan telah terdampak (banjir), berdasarkan data terakhir," tutur Anies pada Sabtu pagi. "Hujan sudah berhenti, tapi air dari daerah lain masih mempengaruhi Jakarta. Semoga tidak sampai ke pusat kota dan saat air surut masyarakat bisa melanjutkan aktivitasnya."

Sementara itu, media yang berbasis di Qatar, Al Jazeera juga turut memberitakan banjir Jakarta hari ini. Koresponden Al Jazeera, Jessica Washington, melaporkan langsung dari salah satu daerah yang terdampak parah di Jakarta Timur.

Menurut Jessica, Jakarta memang dilanda banjir setiap tahunnya, namun fenomena tersebut tak boleh dinormalisasi. Ia menyebut bahwa pembangunan yang berlebihan, terlalu banyak beton, kurangnya ruang hijau, dan pengambilan air tanah yang berlebihan berkontribusi pada banjir parah dan menjadikan Jakarta kota yang paling cepat tenggelam di dunia.

"Para ilmuwan yang kami ajak bicara mengatakan bahwa Gubernur Jakarta Anies Baswedan tidak bertindak seperti yang dijanjikan dan alih-alih berfokus pada normalisasi sungai dan pelebaran sungai untuk membuat kota ini lebih tahan terhadap banjir, dia lebih fokus pada estetika daripada kepraktisan," jelas Jessica. "Dan itu berarti tahun ini, dan kemungkinan di tahun-tahun mendatang, krisis banjir ini hanya akan bertambah buruk."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts