Tenang! WHO Setujui Kompensasi Untuk Efek Samping Serius Vaksin Corona COVAX
Pixabay
Dunia
Vaksin COVID-19

Sebelumnya, pertanyaan mengenai bagaimana klaim kompensasi akan ditangani jika ada efek samping vaksin COVID-19 yang serius memang telah menjadi kekhawatiran bagi negara-negara penerima COVAX.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyetujui rencana kompensasi untuk klaim efek samping serius pada masyarakat di 92 negara miskin yang menerima vaksin virus corona (COVID-19) lewat skema pembagian COVAX. Menurut WHO, program tersebut merupakan mekanisme kompensasi cedera akibat vaksin pertama dan satu-satunya yang beroperasi di skala internasional.

WHO juga menjelaskan bahwa program kompensasi tersebut akan menawarkan "proses yang cepat, adil, kuat dan transparan" pada orang-orang yang memenuhi syarat klaim. "Dengan memberikan kompensasi sekali bayar tanpa kesalahan dalam penyelesaian penuh dan akhir dari setiap klaim, program COVAX bertujuan untuk mengurangi kebutuhan untuk meminta bantuan ke pengadilan secara signifikan, proses yang berpotensi panjang dan mahal," demikian pernyataan WHO, dikutip dari Reuters pada Selasa (23/2).

Adapun rencana kompensasi ini telah dibahas selama beberapa bulan. Rencana ini juga dirancang untuk mencakup efek samping serius yang terkait dengan vaksin corona yang didistribusikan COVAX hingga 30 Juni 2022.


Sebelumnya, pertanyaan mengenai bagaimana klaim kompensasi akan ditangani jika ada efek samping vaksin COVID-19 yang serius memang telah menjadi kekhawatiran bagi negara-negara penerima COVAX. Adapun negara-negara yang mendanai pengadaan vaksin COVID-19 mereka sendiri juga merencanakan program tanggung jawab mereka sendiri.

Di sisi lain, WHO baru-baru ini telah memberikan izin penggunaan darurat untuk dua versi vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca/Oxford. Hal ini sekaligus menjadi lampu hijau bagi vaksin corona tersebut untuk didistribusikan ke seluruh dunia melalui fasilitas COVAX.

WHO menilai kualitas, keamanan dan kemanjuran vaksin COVID-19 dan merupakan prasyarat untuk pasokan vaksin fasilitas COVAX dalam memberikan izin penggunaan darurat tersebut. Dalam kasus vaksin AstraZeneca/Oxford ini, WHO menilai data kualitas, keamanan dan kemanjuran, rencana manajemen risiko dan kesesuaian program, seperti persyaratan rantai dingin (cold chain). Prosesnya pun cukup cepat, yakni memakan waktu kurang dari empat minggu.

Kelompok Penasihat Strategis Ahli Imunisasi WHO (SAGE) meninjau vaksin tersebut pada 8 Februari 2021. SAGE kemudian merekomendasikan vaksin tersebut digunakan untuk semua kelompok usia 18 tahun ke atas.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts