Waduh! 2 Nakes Meninggal Akibat COVID-19 Walau Sudah Divaksin, Komnas KIPI Buka Suara
Pixabay/Angelo Esslinger
Nasional
Vaksin COVID-19

Ketua Komnas KIPI Prof Hindra Irawan Satari menjelaskan mengapa ada tenaga kesehatan yang tetap bisa terinfeksi virus Corona walau sudah menerima vaksin, bahkan sampai meninggal karenanya,

WowKeren - Pemerintah lewat badan berwenangnya terus mengawasi perihal kejadian-kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) usai melaksanakan program vaksinasi COVID-19. Yang dimaksud adalah mengawasi efek-efek samping yang mungkin dirasakan oleh penerima vaksin, termasuk yang menggegerkan belum lama ini adalah tenaga kesehatan yang meninggal akibat infeksi virus Corona.

Sebagai informasi, dua tenaga kesehatan meninggal akibat COVID-19 setelah vaksinasi. Menanggapi peristiwa tersebut, Ketua Komnas KIPI Hindra Irawan Satari pun buka suara dan menjelaskan kemungkinan penyebabnya.

Dijelaskan Hindra, kekebalan yang diciptakan dari vaksinasi baru terbentuk sempurna dalam kurun waktu 28 haru pasca penyuntikan kedua. Nyaris tidak mungkin bisa terbentuk langsung antibodi untuk menangkal virus SARS-CoV-2 pasca penyuntikan pertama, meski bisa saja terjadi namun dalam jumlah yang sangat kecil.

"Meskipuin sudah divaksinasi, dalam dua minggu ke depan sangat amat rawan terpapar," tutur Hindra lewat siaran pers di laman resmi Kementerian Kesehatan, Senin (22/2). Hal ini pun berkenaan dengan pemberian dua dosis vaksin, yakni yang pertama untuk memicu kekebalan awal sedangkan yang kedua untuk menguatkan respons imun yang terbentuk.


"Oleh karena itu setelah diimunisasi tetap harus menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjauhi kerumunan, karena masih rawan," kata Hindra. "Kalau kita lengah bisa saja terjadi hal yang tidak kita inginkan."

Pada kesempatan tersebut, Hindra pun kembali menegaskan perihal efek samping yang ditimbulkan dari pemberian vaksin. "Dengan hasil pengujiannya di fase I, fase II, dan fase III, kita hasilnya ringan," kata Hindra.

Efek samping yang ditimbulkan memang umumnya bersifat ringan dan mudah diatasi seperti nyeri, kemerahan, atau gatal-gatal. Meski tetap ada potensi terjadi efek samping serius, menurut Hindra, di Indonesia proporsi terjadinya kasus semacam itu sangat rendah yakni 42 per 1 juta orang.

"(Yang harus diingat), vaksinasi itu tidak menjamin 100 persen (tidak akan tertular), namun sebagai upaya tambahan untuk mengurangi risiko terpapar/terinfeksi," pungkasnya. Karena itulah, Hindra kembali mendorong publik untuk tetap patuh pada protokol kesehatan.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts