SBY Nilai Moeldoko Rugikan Jokowi Dengan Isu Kudeta Demokrat, Ngabalin: Dimana Logikanya?
Instagram/ngabalin
Nasional
Isu Kudeta Partai Demokrat

SBY mengaku yakin bahwa aksi Moeldoko terkait isu kudeta Demokrat dilakukan tanpa sepengetahuan Jokowi. SBY menilai tindakan Moeldoko itu sangat mengganggu dan bahkan sangat merugikan Jokowi sendiri.

WowKeren - Ketua Majelis Tinggi Partai (MTP) Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah buka suara mengenai isu kudeta kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dalam pernyataannya, SBY terang-terangan menyebut nama Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sebagai pihak ketiga di isu kudeta ini.

SBY yakin bahwa Moeldoko melakukan aksinya tanpa sepengetahuan Presiden Joko Widodo. Selain itu, SBY menilai tindakan Moeldoko terkait Demokrat sangat mengganggu dan bahkan sangat merugikan Jokowi sendiri.

Menanggapi pernyataan SBY tersebut, tenaga ahli KSP Ali Mochtar Ngabalin lantas angkat bicara. Ngabalin mengaku bingung mengapa SBY masih menyeret nama Jokowi dalam isu kudeta kepemimpinan Partai Demokrat tersebut.

"Tidak ada hubungannya apa yang dilakukan Pak Moeldoko dengan mencoreng nama besar Pak Jokowi," ujar Ngabalin kepada awak media pada Kamis (25/2). "Pak Moeldoko itu kan sudah berkali-kali bilang, sebagai kepala staf, ada orang datang minta ketemu, foto-foto, minum teh, dilayani, pulang. Kenapa mesti Pak Jokowi dan Pak Moeldoko yang jadi pembicaraan dan digebukin? Di mana logikanya? Logika apa dipakai itu?"

Selain itu, Ngabalin juga heran kepada Partai Demokrat yang masih membicarakan isu kudeta dan melibatkan Moeldoko. Menurut Ngabalin, tokoh besar seperti SBY seharusnya membicarakan urusan partai yang merakyat, bukannya urusan partai yang dinilainya tak terlalu penting untuk bangsa.


"Intinya itu, produksi satu isu sebagai partai besar, sebagai seorang mantan Presiden, sebagai seorang jenderal, produksi satu isu yang kira-kira rakyat itu bisa merasa diwakilkan dengan apa yang disampaikan, apa yang dibicarakan Pak SBY," ungkap Ngabalin. "Produksi satu isu yang rakyat itu merasa terwakili dengan apa yang disampaikan Pak SBY."

Lebih lanjut, Ngabalin menilai rakyat akan merasa terabaikan jika Demokrat terus membicarakan isu kudeta tersebut saja. Oleh sebab itu, ia menyarankan Demokrat untuk membicarakan urusan yang berhubungan langsung dengan masyarakat.

"Kalau hari-hari ngomong Pak Moeldoko, hari-hari ngomong Demokrat, hari-hari ngomong tentang bagaimana strategi Moeldoko mau mengambil alih Demokrat, apa ya... itu nanti rakyat itu merasa, 'apa sih yang dipikirkan untuk kita ini?'," ujar Ngabalin. "Buatlah sesuatu yang rakyat itu bisa merasa terwakili, rakyat itu merasa welcome dengan apa yang beliau bicarakan, ocehannya itu."

Selain itu, Ngabalin juga menegaskan bahwa Jokowi tak tahu apa-apa soal urusan yang melibatkan Moeldoko dan Demokrat ini. Oleh sebab itu, Ngabalin meminta SBY untuk tidak lagi membawa-bawa nama Jokowi dalam isu ini.

"Karena Pak Moeldoko apa, Kepala Staf Kantor Staf Presiden, aduh, mana yang urusan begitu Pak Jokowi tahu. Mana Pak Jokowi ikut-ikut ini," pungkas Ngabalin. "Pak Jokowi itu punya waktu sekarang ini dari satu tempat ke tempat lain, kemarin dari Sikka, Maumere, dari Surabaya, Kalimantan, terus-menerus meresmikan ini, meresmikan itu. Waktunya habis untuk kepentingan seluruh kepentingan bangsa dan negara. Jadi nggak usahlah bawa-bawa nama Jokowi di acara yang receh-receh begini."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts