Waspadai Mutasi Corona New York! Diduga Kebal Vaksin Sampai Terikat Lebih Kuat di Tubuh
Pixabay/Gerd Altmann
Health
Pandemi Virus Corona

Peneliti mendapati varian virus Corona B.1.526 yang berkembang pesat di New York, Amerika Serikat, sangat patut diwaspadai. Varian virus ini pun 'bercabang', menjadi E484K dan S477N.

WowKeren - Belum adanya vaksin dan obat penyembuh COVID-19 bukan satu-satunya kendala yang mesti dihadapi terkait wabah ini. Perihal sifat virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 yang mudah bermutasi pun sangat diwaspadai oleh peneliti dan otoritas terkait.

Bahkan sebuah laporan menyebut varian baru virus Corona asal New York, yang disebut B.1.526, merupakan salah satu bentuk mutasi yang wajib diwaspadai. Awalnya varian ini berkembang di New York Amerika Serikat pada November 2020 lalu, dan kini sudah "menyumbang" 25 persen genom virus Corona yang dilaporkan di GISAID, seperti dilansir dari The New York Times.

Peneliti Institut Teknologi California mengidentifikasi B.1.526 mengungkap ada perubahan pada struktur protein lonjakan atau duri pada permukaan virus tersebut. Varian ini kemudian bercabang menjadi 2, dikenal sebagai E484K dan S477N.


Secara spesifik, dilansir dari Live Science, dijelaskan bahwa varian cabang E484K merupakan yang kini berkembang di Brasil dan Afrika Selatan. Varian ini dikhawatirkan akan kebal terhadap vaksin karena memiliki kemampuan menetralisir antibodi yang dihasilkan tubuh.

Sedangkan untuk varian S477N membantu virus untuk lebih erat terikat pada tubuh. Sedangkan secara terpisah, peneliti Universitas Columbia menemukan bahwa varian COVID-19 B.1.526 dengan cabang E484K sudah mendominasi sampai 12 persen pasien, bahkan jumlahnya terus meningkat cepat selama beberapa pekan belakangan.

"Kami mendapati tingkat deteksi varian baru ini meningkat beberapa pekan terakhir. Hal ini wajib diwaspadai karena varian baru berpotensi mendominasi seperti strain Inggris dan Afrika Selatan sebelumnya," tutur Direktur Aaron Diamond Pusat Penelitian AIDS Columbia University, Dr. David Ho.

Namun Ho menegaskan masih diperlukan penelitian lebih dalam untuk melihat potensi dominansi B.1.526. "Apalagi dengan terlibatnya mutasi E484K dan S477N, juga ditambah dengan New York sebagai wilayah yang sangat beragam jenis virusnya, maka ini harus diwaspadai," imbuh Virolog dari Institut Riset Scripss San Diego, Kristian Andersen.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts