Intelijen AS Buka Laporan, Yakin Putra Mahkota Saudi Izinkan Pembunuhan Jamal Khashoggi
Instagram/mohammed_bin_salman_ksa
Dunia

Pemerintahan Joe Biden mengizinkan Intelijen AS membuka laporan investigasi mereka soal kematian Jamal Khashoggi, termasuk terkait keterlibatan Putra Mahkota Mohammad bin Salman di dalamnya.

WowKeren - Intelijen Amerika Serikat membuka hasil investigasi mereka terhadap kasus pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi. Dan dalam laporannya, intelijen AS meyakini bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman sudah memberi restu atas upaya penangkapan atau pembunuhan Khashoggi di Turki.

"Kami meyakini Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman, menyetujui operasi di Istanbul, Turki, baik untuk menangkap atau membunuh jurnalis Jamal Khashoggi," demikian kutipan ringkasan laporan tersebut, dilansir dari CNN, Sabtu (27/2). Intelijen sendiri mengaitkan kesimpulan ini dengan posisi Mohammad bin Salman sebagai pemimpin de facto Arab Saudi.

"Kami mendasarkan kesimpulan ini dengan peran Putra Mahkota yang mengontrol pengambilan keputusan di Kerajaan Arab Saudi," tutur intelijen AS. "Kemudian ada keterlibatan langsung penasihat kunci dan pengamanan Mohammad bin Salman dalam operasi tersebut, serta dukungan Putra Mahkota untuk menggunakan tindakan kekerasan dalam membungkam suara-suara sumbang di luar termasuk dari Khashoggi."


Intelijen AS juga menyoroti soal kekuasaan yang dimiliki Mohammad bin Salman di negara kaya minyak tersebut. "Sejak 2017, Putra Mahkota memiliki kekuasaan mutlak atas keamanan dan organisasi intelijen Kerajaan Arab Saudi, sehingga sangat kecil kemungkinan operasi (penangkapan Khashoggi) dilakukan tanpa persetujuan Putra Mahkota," terang penyusun laporan 4 halaman bertajuk "Assessing the Saudi Government's Role in The Killing of Jamal Khashoggi" tersebut.

Kesimpulan ini didapat usai pemerintah Presiden AS Joe Biden mengizinkan dokumen hasil investigasi pembunuhan Khashoggi dibuka ke publik tanpa terkecuali. Kongres AS memberi izin pembukaan dokumen yang sebelumnya dirahasiakan sebagian ini setelah Biden sempat bertelepon dengan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud pada Kamis (25/2) kemarin.

Segera setelah laporan ini dirilis, Menteri Sekretaris Negara Antony Blinken mengumumkan larangan baru bertajuk "Khashoggi Ban". Lewat larangan ini, AS berhak melarang visa individu atau kelompok pemerintah asing yang terkait langsung dengan upaya pembungkaman terhadap jurnalis, aktivis, dan semacamnya meliputi aksi penekanan, pelecehan, pengintaian, pengancaman, atau aktivitas berbahaya lainnya.

Peraturan baru ini pun, terang Blinken, akan dikenai juga terhadap anggota keluarga individu terkait. Dan saat ini siap ditetapkan kepada 76 WN Arab Saudi yang dipercaya terlibat dalam pengancaman pembungkaman di luar negeri, dan dimungkinkan terlibat dalam pembunuhan Khashoggi.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts