Tak Perlu Ragu! Pendonor Plasma Konvalesen Disebut Bakal Rasakan Keuntungan Ini
wikimedia.org/Whoisjohngalt
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Selain bermanfaat untuk pasien positif, pemberi donor atau penyintas COVID-19 juga bisa merasakan sejumlah keuntungan setelah menyumbangkan plasma konvalesen. Berikut penjelasan lengkapnya.

WowKeren - Donor plasma konvalesen menjadi salah satu alternatif pengobatan bagi pasien COVID-19, terutama untuk mereka yang memiliki gejala berat. Selain bermanfaat untuk pasien positif, pemberi donor atau penyintas COVID-19 juga bisa merasakan sejumlah keuntungan setelah menyumbangkan plasma tersebut.

David Handojo selaku Deputi Bidang Penelitian Translasional dan Kepala Laboratorium Hepatitis Lembaga Eijkman mengatakan bahwa pendonor plasma konvalesen tidak akan merasakan efek samping yang membahayakan. Terutama karena pendonor telah menjalani proses skrining kesehatan sebelumnya.

"Kan sudah diperiksa dulu ya, misalnya tadi umurnya, tekanan darah normal dan dia enggak sakit. Kayak donor biasa, dia bisa mendonorkan dan jumlah (plasma) yang diambil tidak terlalu banyak," kata David melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Senin (1/3).

David menyatakan bahwa donor plasma berbeda dengan donor biasa yang mengeluarkan darah merah. Dengan begitu, donor ini tidak akan membuat tubuh terasa sakit. "Itu yang tidak dipakai, misalnya darah merah, bisa kembali, sehingga Hb-nya tetap, badan tidak sakit dan lain-lain," jelasnya.

Ia bahkan menemukan sejumlah orang yang langsung berolahraga setelah mendonorkan plasmanya. Meski aktivitas ini kurang dianjurkan, David memandangnya sebagai efek baik dari donor tersebut.

"Bahkan ada beberapa pasien yang sudah mendonor, beberapa jam kemudian main tenis. Itu ada. Memang tidak kita anjurkan. Jangan dulu lah. Tapi tidak masalah, bahkan menguntungkan," paparnya.


"Artinya apa? Dengan keluarnya itu, maka tubuh akan terangsang membentuk hal-hal baru. Penyegaran darah dan komponen darahnya lebih baru dan segar," sambungnya.

Lebih lanjut, David menekankan pentingnya plasma konvalesen sebagai terapi jangka panjang untuk pasien COVID-19. Terutama karena belum ada obat yang benar-benar dapat menyembuhkan penyakit tersebut.

"Dari berbagai studi maupun uji klinik di dunia itu masih belum ada protokol yang jelas. Kadar berapa, berapa dosisnya, berapa kalau seseorang diberikan, bagaimana efek-efek yang lain itu masih dalam penelitian," jelasnya.

Dia melanjutkan, "Ini opsi jangka panjang terutama untuk negara-negara berkembang. Bukan negara-negara kaya yang banyak menciptakan obat. Kita sangat perlu karena akses obat-obat baru, kalau pun ada, tidak tahu dan tidak pasti sampai kapan (tersedia)."

Sementara itu, pemerintah telah menganjurkan penyintas COVID-19 untuk mendonorkan plasma konvalesennya untuk membantu pasien positif yang masih menjalani perawatan. Upaya ini penting dilakukan karena plasma tersebut mengandung antibodi dari mereka yang berhasil sembuh.

(wk/eval)

You can share this post!

Related Posts