WHO Sebut Target 'Dunia Bebas Corona Akhir 2021' Tak Realistis
Reuters/Denis Balibouse
Dunia
Pandemi Virus Corona

Direktur Kedaruratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Michael Ryan mengungkapkan jika pandemi virus corona (COVID-19) tidak akan selesai pada akhir tahun 2021. Kenapa?

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan jika pandemi virus corona (COVID-19) tidak akan selesai pada akhir tahun 2021. Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan mengungkapkan, yang mungkin bisa dilakukan untuk mengurangi 'sengatan' tragedi dan krisis COVID-19 saat ini adalah menekan tingkat rawat inap dan kematian.

Ryan juga menambahkan jika virus ini telah memberikan peringatannya mengingat jumlah kasus global melonjak khususnya dalam sepekan belakangan, setelah tujuh minggu berturut-turut sebelumnya sempat menurun. "Ini akan menjadi sangat prematur (menganggap virus segera berakhir) dan saya rasa tidak realistis untuk berpikir bahwa kita akan menyelesaikan pandemi ini pada akhir tahun," ungkapnya dilansir dari AFP, Selasa (2/3).

"Tapi saya pikir, apa yang bisa kita selesaikan--jika kita cakap--adalah bagaimana memperbaiki sistem perawatan atau hospitality, mengendalikan tingkat kematian dan pelbagai tragedi yang berhubungan dengan pandemi ini," sambungnya.


Ryan pun menuturkan, fokus WHO kini adalah menekan laju penularan virus corona tetap rendah demi membantu mengantisipasi munculnya varian baru, selain juga mengurangi jumlah orang yang sakit. Vaksinasi terhadap tenaga kesehatan dan petugas di garda terdepan yang paling rentan terpapar juga dipercaya mampu menepikan ketakutan akan tragedi pandemi.

Sementara itu, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menginginkan vaksinasi tenaga kesehatan dilakukan di setiap negara dalam 100 hari pertama pada 2021--yang artinya kini tersisa sekitar 40 hari. Ia juga menyambut positif suntikan dosis pertama melalui pelbagai fasilitas vaksinasi global Covax, seperti di Ghana dan Pantai Gading.

Meski begitu, ia juga mengkritik pemerataan perolehan jatah vaksin. "Sangat menggembirakan melihat petugas kesehatan di negara-negara berpenghasilan rendah mulai divaksinasi. Tetapi sangat disayangkan bahwa ini terjadi hampir tiga bulan, setelah beberapa negara terkaya memulai kampanye vaksinasi mereka," ungkapnya.

Tak hanya itu, Tedros juga menyesalkan sejumlah negara yang justru memprioritaskan vaksinasi Covid-19 untuk warga berusia muda ataupun orang dewasa dengan risiko penyakit yang lebih rendah, ketimbang ke tenaga kesehatan maupun warga lanjut usia (lansia). Tapi kekecewaan itu ia utarakan tanpa menyebut nama negara.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts