Angka Kematian COVID-19 Pecah Rekor, Presiden Brasil Minta Warganya Berhenti 'Merengek'
Instagram/jairmessiasbolsonaro
Dunia
Pandemi Virus Corona

Pada Selasa (2/3), Brasil mencatatkan 1.595 kasus kematian COVID-19 dalam sehari, kemudian rekor tersebut dipecahkan pada Rabu (3/3) kala Brasil mencatatkan 1.910 kasus kematian dalam sehari.

WowKeren - Brasil memecahkan rekor angka kematian akibat virus corona (COVID-19) selama dua hari berturut-turut. Pada Selasa (2/3), Brasil mencatatkan 1.595 kasus kematian COVID-19 dalam sehari, kemudian rekor tersebut dipecahkan pada Rabu (3/3) kala Brasil mencatatkan 1.910 kasus kematian dalam sehari.

Di tengah kabar duka tersebut, Presiden Brasil Jair Bolsonaro justru meminta warganya untuk berhenti "merengek" dan move on. Bolsonaro juga mempertanyakan sampai kapan kebijakan social distancing dan pembatasan dilakukan di masa pandemi ini.

"Sudah cukup rewel dan rengekannya. Berapa lama lagi tangisan akan berlangsung?" kata Bolsonaro pada Kamis (4/3). "Berapa lama lagi Anda akan tinggal di rumah dan menutup semuanya? Semuanya sudah tidak tahan lagi. Kami menyesali kematian (COVID-19), lagi, tapi kami butuh solusi."


Gelombang kedua pandemi corona di Brasil membuat kebijakan pembatasan baru diterapkan di Ibu Kota negara tersebut, Brasilia, dan Sao Paulo yang merupakan kota terbesar di sana. Selain itu, pada Kamis (4/3) Rio de Janeiro juga mengumumkan penerapan jam malam di seluruh kota dan waktu tutup lebih awal untuk restoran.

Para Gubernur Negara Bagian Brasil dan juga kalangan dokter mengeluh bahwa pemerintah federal telah salah langkah dalam mengelola krisis pandemi corona ini. Terlebih Bolsonaro sendiri meremehkan tingkat keparahan pandemi dan juga menentang kebijakan lockdown.

Selain itu, pemerintah Brasil juga sempat menunda proses untuk memperoleh dan mendistribusikan vaksin corona. Pihak otoritas kesehatan sendiri paling mengkhawatirkan munculnya varian virus corona baru akibat mutasi dari wilayah Amazon yang diduga lebih cepat menular dan mampu menginfeksi kembali para pasien COVID-19 yang sudah sembuh.

"Kami mengalami prospek terburuk untuk pandemi sejak dimulai," ungkap dokter medis, Gonzalo Vecina Neto, seperti dikutip dari Reuters. "Mutasi adalah hasil dari peningkatan reproduksi virus. Semakin banyak jumlah virus, semakin cepat penularannya, semakin banyak pula mutasi yang kita miliki."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts