AHY Gelar Safari Politik, Kubu KLB Moeldoko Kebakaran Jenggot
Instagram/pdemokrat
Nasional
Isu Kudeta Partai Demokrat

AHY selaku Ketum PD menggelar safari politik dengan menemui sejumlah tokoh di Indonesia. Kubu KLB Moeldoko tidak mau kalah, mereka mendekati dan memberi tawaran eks Wakapolri untuk menjadi Waketum.

WowKeren - Di tengah konflik Partai Demokrat (PD) dengan kubu Kongres Luar Biasa (KLB), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) selaku Ketum PD menggelar safari politik. Safari politik AHY terakhir diketahui bertemu dengan mantan Wapres RI, Jusuf Kalla yang biasa disebut JK.

"Kedatangan kami pagi ini utamanya adalah untuk silahturahmi, bagaimana pun PD memiliki hubungan sejarah politik yang sangat baik dengan Pak JK, Pak JK pernah menjadi wakil presiden mendamping Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)," terang AHY, Minggu (14/3). "PD juga menjadi mitra strategis bagi Partai Golkar saat dipimpin oleh Pak JK sebagai Ketua Umum."

AHY menggelar safari politik dengan menemui sejumlah tokoh politik di Indonesia. Selain mantan wakil presiden, Jusuf Kalla, tokoh-tokoh politik yang telah ditemui oleh AHY antara lain Menko Polhukam, Mahfud MD dan mantan ketua MK, Jimly Asshiddiqie. AHY mengatakan alasannya menemui mereka adalah untuk silahturahmi.

Mengetahui kegiatan safari politik yang dilakukan oleh AHY membuat kubu lawan, yakni KLB turut melakukan dan mencoba mendekati orang terdekat JK. Diketahui bahwa saat ini KLB sedang menyusun kepengurusan.


Deputi Balitbang Demokrat, Syahrial Nasution mengatakan bahwa pihak KLB menghubungi eks Wakapolri, Komjen (Purn) Syafruddin untuk diminta menjadi wakil ketua. Hal ini dilakukan untuk mendampingi Mantan Panglima TNI, Moeldoko yang saat ini diketahui sebagai ketuanya. Menurut Syahrial, Syafruddin menolak tawaran tersebut.

"Mantan Wakapolri Komjen (Purn) Syafruddin dihubungi oleh Marzuki Alie dan Darmizal," tutur Syahrial, dikutip dari detik.com Senin (15/3). "Diminta jadi Waketum PD versi KLB abal-abal, dia menolak."

Syahrial juga mengatakan, saat mengetahui tawaran yang diajukan oleh Marzuki Alie dan Damrizal ditolak, Moeldoko menghubungi Syafruddin secara langsung. Alih-alih diterima, tawaran langsung yang diberikan oleh Moeldoko pun juga ditolak. "Sampai akhirnya, Moeldoko menghubungi langsung, juga ditolak," tambah Syahrial.

Syahrial mengaku mendapatkan informasi tersebut dari sumber terpercaya. Syahrial menyebut dengan adanya penolakan dari tokoh sekelas Syafruddin menandakan bahwa memang ada ketidakbenaran dalam KLB tersebut.

"Artinya ini kudeta, karena kegiatannya dilaksanakan dulu, tidak didaftarkan, karena memang susunan kepengurusannya belum ada," ungkap Syahrial. "Legalitasnya nggak benar, menggunakan tangan kekuasaan untuk mempengaruhi DPC-DPC dan DPD-DPD pemilik hak suara."

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts