Sebenarnya Kapan Antibodi Vaksin Sinovac Terbentuk? Ini Kata Kemenkes
Twitter/KemenkesRI
Nasional
Vaksin COVID-19

Jubir Vaksinasi Kemenkes Siti Nadia Tarmizi memberi gambaran proses dan durasi pembentukan antibodi oleh vaksin COVID-19 Sinovac di dalam tubuh. Begini penjelasan selengkapnya.

WowKeren - Beberapa kali berita soal kasus positif COVID-19 yang dikonfirmasi pasca seseorang menerima vaksinasi terdengar di Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya dikonfirmasi ketika sudah menerima suntikan dosis kedua vaksin Sinovac.

Tentu menjadi pertanyaan, sebenarnya kapan antibodi dari vaksin ini akan terbentuk dan mampu melindungi penerimanya dari infeksi COVID-19? Hal ini pun dijelaskan Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmizi.

Diterangkan Siti Nadia, vaksinasi COVID-19 terutama dengan produk Sinovac memang membutuhkan 2 kali penyuntikan. Pasca penyuntikan dosis pertama, tubuh masih memerlukan waktu untuk membentuk antibodi. Karena itulah masih besar risiko penerima dosis pertama vaksin untuk terinfeksi virus Corona.

Kendati demikian, durasi pembentukan antibodi ini sangat ditentukan oleh tingkat imunitas seseorang. Semakin rendah imunitasnya, yang ditentukan oleh banyak faktor, maka semakin lama juga antibodi akan terbentuk.


"Masing-masing orang kadarnya beda-beda. Ada yang memang antibodi tumbuhnya banyak, ada antibodi yang tubuhnya sedikit," terang Siti Nadia, dikutip dari Kumparan, Selasa (16/3).

Artinya kekebalan tubuh yang sudah dibantu vaksin ini akan menemui puncaknya pada hari ke-28 setelah suntikan vaksin kedua. "Kekebalan itu dimulai 28 hari sesudah suntik kedua. Kalau dia sudah suntik pertama kemudian terpapar masih bisa kena. Dia disuntik kedua terpapar, dia pun kemungkinan masih bisa kena. Yang optimal perlindungan itu terbentuk 28 hari sesudah suntikan kedua," jelasnya.

Suntikan pertama untuk menentukan respons awal, sedangkan dosis kedua berguna memunculkan respons antibodi. Suntikan kedua ini bersifat booster untuk meningkatkan titer antibodi secara maksimal, dengan prediksi antibodi maksimal terbentuk 28 hari pasca penyuntikan vaksin kedua.

"Kalau kita sudah ada antibodi, gejala yang dialami tidak terlalu parah dan tidak usah masuk rumah sakit. Tapi kemungkinan untuk terkena masih ada dan yang paling bahaya tetap masih bisa menularkan. Belum ada penelitian yang mengonfirmasi kalau sudah divaksin kemudian tidak bisa menular," tegasnya menambahkan.

Selain soal risiko penerima vaksin masih bisa terjangkit COVID-19 hingga menularkan penyakit itu, Siti Nadia juga mengungkap fakta lain. Bahwa hingga kini belum pasti juga seberapa lama antibodi COVID-19 dari vaksin Sinovac bisa bertahan di dalam tubuh karena masih menanti hasil final report uji klinis tahap 3 yang keluar antara Juni sampai September 2021.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts