Prihatin dengan keadaan yang terjadi di Myanmar dan melihat semakin banyaknya korban tewas berjatuhan, Paus Fransiskus mengaku dirinya rela 'berlutut' demi perdamaian.
- Wahyu
- Kamis, 18 Maret 2021 - 12:27 WIB
WowKeren - Kasus kudeta di Myanmar oleh junta militer yang berlangsung mulai Februari, sampai sekarang diketahui belum menemukan titik terang. Bahkan diketahui semakin banyak korban yang berjatuhan. Dilaporkan telah lebih dari 180 pengunjuk rasa yang tewas dalam aksinya. Demo masih terus berlangsung, para demonstran tak gentar melawan aparat keamanan demi aspirasinya agar bisa didengar oleh junta militer.
Kondisi Myanmar saat ini telah menjadi perhatian publik. Banyak negara di dunia yang diketahui prihatin dengan kondisi Myanmar saat ini. Kondisi Myanmar yang semakin memburuk lantas mendapat perhatian dari pemimpin umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus. Ia prihatin dengan korban tewas yang berjatuhan di Myanmar.
"Sekali lagi, dengan banyak kesedihan, saya merasakan dorongan untuk berbicara mengenai kondisi di Myanmar," tutur Fransiskus dikutip dari Reuters, Kamis (18/3). "Banyak orang kehilangan nyawanya, terutama kaum muda yang berharap kepada negara mereka."
Paus Fransiskus meminta agar kekerasan bisa dihentikan. Bahkan ia menyebut rela "berlutut" demi perdamaian di Myanmar. "Saya juga rela 'berlutut' di jalan Myanmar, dan saya berkata, 'Hentikan kekerasan'," tegas Fransiskus.
Fransiskus juga berharap junta militer Myanmar bisa lebih mendengarkan suara rakyat, tanpa melakukan kekerasan yang menyebabkan korban berjatuhan. "Saya juga mengulurkan tangan dan berkata, 'Semoga dialog berhasil' pertumpahan darah tak menyelesaikan apa pun," pungkas Fransiskus.
Sebelumnya, diketahui ada sebuah video yang beredar luas dan menjadi viral di sosial media. Dalam video tersebut, tampak seorang biarawati Katolik yang memohon kepada aparat keamanan sambil berlutut agar mereka tidak menembaki para pengunjuk rasa di Kota Myitkyina, Myanmar.
Biarawati tersebut diketahui bernama Suster Ann Rose Nu Tawn. Menurut pengakuannya kepada wartawan, ia meminta aparat keamanan untuk mengampuni anak-anak dan menembaknya sebagai gantinya.
Sebagian besar masyarakat di Myanmar menganut agama Budha. Akan tetapi, diketahui ada sekitar 800 ribu warga Myanmar yang memeluk agama Katolik. Charles Maung Bo selaku pemimpin umat Katolik di Myanmar juga menyerukan untuk mengakhiri pertumpahan darah.
Tak hanya Paus Fransiskus yang prihatin dengan kondisi Myanmar sekarang. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pun juga telah mengungkapkan keprihatinannya atas apa yang sedang terjadi di Myanmar.
(wk/wahy)