Tak Sebatas Alat Komunikasi, Nadiem Makarim Sebut Bahasa Daerah Miliki Peran Penting Ini
Instagram/nadiemmakarim
Nasional

Saat membuka Kongres Aksara Jawa 1 di Yogyakarta pada Senin (22/3), Mendikbud Nadiem Makarim menjelaskan peran penting bahasa daerah. Simak penuturan lengkapnya berikut ini.

WowKeren - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menjelaskan pentingnya penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Di samping fungsinya sebagai alat komunikasi, Nadiem menilai bahasa daerah dapat menciptakan budi pekerti yang baik.

"Kebudayaan suatu bangsa tercermin dari bahasa. Semakin halus sebuah bahasa semakin peka akan nuansa, maka semakin halus kebudayaan," kata Nadiem saat membuka Kongres Aksara Jawa 1 di Yogyakarta, Senin (22/3).

Menurutnya, bahasa daerah khususnya Bahasa Jawa, memiliki peran penting dalam pertumbuhan literasi dan paradigma pendidikan budaya lokal. "Kitab Serat Paniti Sastra misalnya, menekankan bahwa kehalusan budi pekerti tercermin melalui keindahan bahasa. Dan karakter seseorang bisa dilihat dari perilaku, cara bicara, dan perasaannya," papar Nadiem.

Karena itulah Nadiem kembali menegaskan bahwa fungsi bahasa daerah tak sebatas untuk alat komunikasi. "Oleh karena itu penguasaan bahasa, khususnya bahasa daerah lebih dari sekadar penguasaan alat komunikasi," jelasnya.


Lebih lanjut, Nadiem mengutarakan pentingnya aksara sebagai unsur pokok dalam bahasa. Sebagai contoh, ia menyebut aksara Jawa sebagai aksara yang harus senantiasa dilestarikan.

"Pelestarian aksara Jawa pun harus dipandang sebagai langkah yang mutlak harus dipertahankan untuk menjaga keberlangsungan kebudayaan Jawa. Sebab melestarikan aksara Jawa berarti merawat tubuh-tubuh kebudayaan Jawa," tandasnya.

Maka dari itu, Nadiem meminta masyarakat untuk mendukung eksistensi aksara dan bahasa daerah. Dengan begitu, kebudayaan Indonesia akan senantiasa terjaga dan tak tergerus oleh zaman.

"Aksara Jawa bersusah payah bertahan di tengah aksara latin yang kita gunakan sehari-hari. Ke depan, kita harus mendorong kebudayaan Jawa yang semakin inklusif dan mendukung kedudukan aksara Jawa di tengah ekosistem kebahasaan dunia," jelas Nadiem.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga hadir dalam kongres tersebut turut menekankan pentingnya melestarikan bahasa daerah. "Eksistensi bahasa minimal dipakai 10 ribu orang untuk memastikan transmisi ke generasi. Bahasa daerah perlu didorong tetap hidup, terutama di lingkungan keluarga untuk diwariskan ke setiap penutur," tutur Sultan.

(wk/eval)

You can share this post!

Related Posts