Badan Kesehatan AS Ragukan Data Uji Coba Vaksin AstraZeneca
Reuters
Dunia
Vaksin COVID-19

Pernyataan tersebut muncul satu hari usai temuan uji coba vaksin AstraZeneca di AS menunjukkan bahwa vaksin tersebut 79 persen efektif dalam mencegah gejala penyakit.

WowKeren - Sebuah badan kesehatan Amerika Serikat (AS) meragukan data uji klinis vaksin virus corona (COVID-19) AstraZeneca. Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS (NIAID) mengaku telah mendapat informasi dari dewan pemantau data independen yang bekerja dengan AstraZeneca pada uji coba AS bahwa perusahaan farmasi tersebut kemungkinan telah menggunakan informasi yang sudah kedaluwarsa terkait keefektifan vaksinnya.

"Dewan Pemantau Kemanan Data (DSMB) menyatakan keprihatinan bahwa AstraZeneca mungkin telah memasukkan informasi yang sudah kadaluwarsa dari uji coba itu, yang mungkin memberikan pandangan yang tidak lengkap tentang data efikasi (khasiat)," demikian pernyataan NIAID pada Selasa (23/3). "Kami mendesak perusahaan untuk bekerjasama dengan DSMB untuk meninjau data efikasi dan memastikan data efikasi yang paling akurat dan terbaru dipublikasikan secepat mungkin."

Sebagai informasi, NIAID dipimpin oleh Kepala Penasihat Medis Gedung Putih Dr. Anthony Fauci. Badan kesehatan tersebut merupakan bagian dari Institut Kesehatan Nasional.

Fauzi sendiri menyebut kekhawatiran yang disampaikan oleh dewan itu sebagai "kesalahan" di pihak AstraZeneca, namun mengatakan bahwa suntikan itu "kemungkinan besar adalah vaksin yang baik". AstraZeneca sendiri mengatakan akan "segera terlibat" dengan pejabat kesehatan untuk membahas data efikasi paling mutakhir dan menjanjikan analisis yang lebih rinci dalam waktu 48 jam.


Adapun pernyataan NIAID ini muncul satu hari usai temuan uji coba vaksin AstraZeneca di AS menunjukkan bahwa vaksin tersebut 79 persen efektif dalam mencegah gejala penyakit. Selain itu, vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh AstraZeneca dan Universitas Oxford ini juga disebut 100 persen efektif melawan penyakit parah dan rawat inap.

Data dari studi uji coba manusia tahap akhir ini didasarkan pada lebih dari 32.000 sukarelawan di 88 pusat uji coba di AS, Peru, dan Chili. Temuan tersebut disambut "sangat positif" dan disebut sebagai "kabar baik bagi komunitas global."

Pihak AstraZeneca sendiri berencana untuk menyerahkan analisis utama vaksinnya ke Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk otorisasi penggunaan darurat di Negeri Paman Sam. Data tersebut rencananya akan diserahkan ke FDA sebelum pertengahan April 2021.

Sebelumnya, vaksin AstraZeneca sempat menuai kontroversi setelah adanya laporan kasus pembekuan darah pada beberapa orang yang divaksinasi. Sejumlah negara bahkan sempat menangguhkan penggunaan vaksin AstraZeneca.

Namun, pihak AstraZeneca menyatakan bahwa DSMB independen tidak menemukan peningkatan risiko pembekuan darah terkait vaksin corona yang mereka kembangkan. "Sangat menyenangkan melihat bahwa bahkan dengan kaca pembesar, Dewan Pemantau Keamanan Data tidak melihat adanya ketidakseimbangan antara kelompok yang divaksinasi dan kelompok plasebo," tutur Wakil Presiden Eksekutif Unit Bisnis Biofarmasi AstraZeneca, Ruud Dobber, kepada CNBC, Senin (22/3).

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts