Relawan Uji Klinis Sinovac Bakal Kembali Disuntik Tahun Depan, Ini Alasannya
Unsplash/Ivan Diaz
Nasional
Vaksin COVID-19

Hal ini diungkapkan oleh Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil yang turut menjadi salah satu relawan uji klinis vaksin virus corona (COVID-19) Sinovac.

WowKeren - Vaksin virus corona (COVID-19) yang dikembangkan perusahaan Sinovac asal Tiongkok telah digunakan untuk program vaksinasi Indonesia selama sekitar 2,5 bulan. Sebelum itu, uji klinis vaksin Sinovac sendiri juga sempat digelar di Bandung, Jawa Barat.

Kekinian, para relawan yang mengikuti uji klinis vaksin Sinovac akan kembali mendapat suntikan vaksin pada Agustus 2022 mendatang. Hal ini diungkapkan oleh Gubernur Jawa Barat Rdiwan Kamil yang turut menjadi relawan uji klinis vaksin Sinovac.

"Jadi relawan ini belum berhenti pada saat dulu Agustus penyuntikan, Agustus 2022 akan ada namanya suntikan booster menambahi satu dosis untuk meningkatkan antibodi," ungkap Gubernur yang akrab disapa Kang Emil tersebut di Puskesmas Garuda Bandung. "Karena di berbagai kondisi ada potensi antibodinya kalau udah kelamaan dia turun, supaya tidak mendekati nol di-push lagi satu dosis sehingga dia naik dan akhirnya tetap mantap untuk mencapai kekebalan kelompok."


Meski demikian, Kang Emil tak bisa mengungkapkan relawan mana yang menerima vaksin atau plasebo (obat kosong). Hal tersebut hanya bisa disampaikan oleh pihak yang memiliki kewenangan.

Namun, Kang Emil menyatakan bahwa tubuhnya kini sudah mengandung vaksin. "Tapi kalau mau saya sampaikan secara apa adanya, ya tubuh saya sudah mengandung vaksin, kira-kira begitu. Hanya orang-orang per orang aturan hukum medisnya tidak bisa diketahui secara umum, karena sekarang masih terus ada proses sampai tahun depan, satu tahun setelah suntikan kedua," pungkas Kang Emil.

Di sisi lain, Guru Besar Unpad sekaligus Ketua Tim Riset Vaksin COVID-19 Prof Kusnandi Rusmil sempat menyarankan agar penerima vaksin Sinovac kembali melakukan vaksinasi setelah dua tahun. Pasalnya, virus COVID-19 dinilainya selalu berubah sehingga vaksin yang digunakan untuk mencegahnya juga perlu disesuaikan.

"Kalau sudah lewat tahun ketiga, kita sudah ganti vaksinnya," kata Prof Kusnandi, Selasa (23/3). "Jadi begini, yang sudah disuntik tidak akan timbul kekebalan seumur hidup, tidak akan. Karena bentuk kumannya seperti kuman influenza, jadi selalu berubah."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts