Johnson & Johnson Setop Produksi 1 Batch Vaksin COVID-19, Imbas Penerima Alami Efek Samping Langka?
Pixnio
Dunia
Vaksin COVID-19

Seorang pria di Virginia AS dilaporkan mengalami efek samping langka pasca menerima vaksin COVID-19 Johnson & Johnson. Dan kini secara kebetulan Johnson & Johnson menghentikan produksi 1 batch vaksinnya.

WowKeren - Johnson & Johnson menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan vaksin COVID-19. Namun pada Rabu (31/3) waktu setempat, pabrik Johnson & Johnson di Baltimore, Amerika Serikat menghentikan produksi 1 batch vaksinnya.

Lantas adakah kaitan penyetopan ini dengan temuan efek samping langka yang dilaporkan seorang pria di Virginia belum lama ini? Melansir The New York Times, rupanya pekerja di Pabrik Emergent BioSolutions yang bertanggung jawab atas produksi vaksin COVID-19 Johnson & Johnson tanpa sengaja mencampurkan sejumlah bahan yang tidak semestinya.

Atas peristiwa ini, Johnson & Johnson terpaksa menghentikan produksi 15 juta dosis tunggal vaksin tersebut dan menunda otorisasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). Pihak Johnson & Johnson sendiri mengidentifikasi peristiwa yang terjadi sebagai kegagalan satu batch produksi vaksin menemui standar quality control.

Namun Johnson & Johnson memastikan kejadian ini tak mengganggu penyediaan vaksin COVID-19 oleh perusahaan tersebut. Sebab rupanya batch yang ditangguhkan adalah bagian dari uji coba dan pemeriksaan kualitas.

Situs tersebut rupanya belum mendapat izin dari FDA untuk membuat vaksin COVID-19. "Batch ini tidak pernah maju ke tahap pengisian dan penyelesaian proses manufaktur kami," tegas Johnson & Johnson dalam pernyataan tertulisnya.


Ditegaskan pula oleh Johnson & Johnson penyaluran jutaan dosis vaksin COVID-19 akan tetap berjalan sebagaimana seharusnya. Sebab vaksin-vaksin tersebut diproduksi di Belanda.

"Ini adalah contoh kontrol kualitas yang ketat yang diterapkan pada setiap batch vaksin," ujar Johnson & Johnson. "Kualitas dan keamanan vaksin terus menjadi prioritas utama kami."

Sedangkan sebagai informasi, beberapa waktu lalu, seorang pria di Virginia AS dilaporkan mengalami efek samping langka usai menerima dosis vaksin COVID-19 Johnson & Johnson. Bukan "sekadar" demam atau nyeri di tempat penyuntikan, Richard Terrell (74) mengalami ruam-ruam parah di sekujur tubuh sampai kulitnya mengelupas.

Terrell mulai merasakan gejala ini 4 hari setelah menerima vaksin. "Saya mulai merasa tidak nyaman di ketiak dan beberapa hari kemudian mulai muncul ruam yang gatal. Lalu setelahnya ruam mulai membengkak, melepuh, dan kulit saya memerah hebat," ujar Terrell kepada WRIC, dilansir pada Kamis (1/4).

Beruntung Terrell segera mendapatkan penanganan medis atas reaksi yang dialaminya. Terrell kini pun telah berhasil mengatasi efek samping yang dialaminya. Pihak dokter pun meyakinkan bahwa reaksi alergi semacam ini sangat langka terjadi sehingga tidak seharusnya memicu kekhawatiran masyarakat menerima vaksin COVID-19 Johnson & Johnson.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts