Komandan Brimob Meninggal Gegara COVID-19, Terungkap Sudah Terima 1 Dosis Vaksin AstraZeneca
commons.wikimedia.org/gencat cat
Nasional
Vaksin COVID-19

Seorang komandan Brimob di Maluku baru menerima suntikan pertama vaksin AstraZeneca pada 30 Maret 2021. Namun pada Minggu (4/4) hari ini ia dinyatakan meninggal karena COVID-19.

WowKeren - Perkara vaksinasi COVID-19 kembali menjadi sorotan. Kali ini seorang komandan Brimob di Maluku berinsial Iptu LT dilaporkan meninggal dunia karena COVID-19 meski sudah sempat mengikuti vaksinasi dengan AstraZeneca pada 30 Maret 2021 silam.

"Memang yang bersangkutan vaksin tanggal 30 Maret kemarin. Tadi malam subuh tadi meninggal," terang Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Oem Ohirat. Dengan demikian, mendiang berpulang hanya berselang lima hari setelah ia menerima dosis pertama vaksin AstraZeneca.

"Baru (tahap) 1 AstraZaneca. Divaksin kemarin tanggal 30 itu. Secara massalkan Polda Maluku dilakukan tanggal 30 kemarin," imbuh Oem, dikutip dari Kumparan, Minggu (4/4).

Dari hasil pemeriksaan terhadap mendiang, terungkap bahwa Iptu LT positif COVID-19. Terkait kondisi tersebut, pihak Oem menduga Iptu LT sudah positif COVID-19 sebelum menerima vaksinasi.

"Terus setelah dilakukan pemeriksaan ternyata yang bersangkutan COVID-19. Tidak bisa (dikaitkan)," kata Oem.


Oem pun menegaskan bahwa Iptu LT meninggal akibat COVID-19 dan tidak ada sangkut pautnya dengan penerimaan vaksin yang dilakukan beberapa hari sebelumnya. "Jelas-jelas COVID-19 kok. Bagaimana kita hubungkan dengan vaksin," ujar Oem.

Oem pun enggan memberikan banyak keterangan terkait sesuatu yang bukan wewenangnya. Ia lantas menyerahkan semua kepada petugas kesehatan.

"Setelah divaksin ini kan belum tentu ada imunnya jalan. Jelasnya saya tidak bisa jelaskan menyangkut itu," pungkas Oem.

Seperti vaksin yang dikembangkan Sinovac, produk AstraZeneca juga mengharuskan penyuntikan dua kali dosis untuk membangun antibodi yang mumpuni melawan virus Corona. Apabila baru menerima suntikan pertama, imunitas terhadap COVID-19 belum tercipta karena masih harus ada booster yang disuntikkan.

Penyuntikan ini, sesuai protokol, dilakukan delapan pekan sesudah menerima suntikan pertama. Karena itulah masyarakat diimbau untuk tetap menaati protokol kesehatan selama proses tersebut karena vaksin juga tidak serta-merta membuat penerimanya menjadi benar-benar kebal dari infeksi virus.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts