Vaksin COVID-19 AstraZeneca Berpolemik, WHO Tegaskan Manfaatnya Tetap Lebih Besar
commons.wikimedia.org/Rwendland
Dunia
Vaksin COVID-19

Manfaat vaksin COVID-19 AstraZeneca, disebutkan WHO, tetap jauh lebih besar daripada risikonya. Padahal beberapa negara sampai menangguhkan penggunaan vaksin karena diduga terkait pembekuan darah.

WowKeren - Keamanan vaksin COVID-19 yang dikembangkan AstraZeneca terus dipertanyakan. Pasalnya Eropa sampai menghentikan sementara pemakaian vaksin itu karena diduga terkait dengan fenomena pembekuan darah pada penerimanya.

Kendati demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali menegaskan tidak ada alasan untuk menghentikan pemakaian vaksin AstraZeneca. Sebab meski risikonya dianggap cukup besar, manfaat yang didapat dari penerimaan vaksin AstraZeneca tetap lebih besar.

WHO mendasarkan pernyataannya itu dengan data terakhir dari pemerintah Eropa. Bahwa meskipun otoritas kesehatan Eropa mendapati ada kaitan antara vaksin AstraZeneca dengan pembekuan darah yang langka terjadi di otak, namun belum ada penjelasan detail terjadinya kondisi tersebut.

Direktur Regulasi dan Prekualifikasi WHO Rogerio Gaspar menyatakan pihaknya tengah menunggu laporan baru pada Rabu atau Kamis pekan ini. Disebutkan tim pengawas keamanan vaksin WHO akan menemui pihak-pihak terkait, meski organisasi itu meyakini tidak ada alasan kuat untuk mengubah izin penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca.


"Apa yang bisa kita sampaikan adalah sejauh ini, berdasarkan pantauan dari para ahli, manfaat dari pemakaian vaksin AstraZeneca masih sangat besar," ujar Gaspar di konferensi pers di Jenewa, Swiss, Selasa (6/4). "Bahkan lebih besar daripada risikonya."

"(Tetapi) kita terus melihat peningkatan jumlah kejadian terkait trombositopenia menjadi tromboembolik," imbuhnya. "Kejadian-kejadian langka itu kita kategorikan dalam diagnosis, di populasi, terkait distribusi dalam sebuah populasi."

Gaspar juga menegaskan pihaknya terus dalam koordinasi dengan ahli-alih kesehatan lintas nasional dan regional untuk menentukan status vaksin. "Dan selama kami meneliti, tidak ada bukti status vaksin perlu diubah karena profil manfaat dan risikonya," pungkas Gaspar.

Di sisi lain, vaksin AstraZeneca sudah didistribusikan ke berbagai negara di tengah polemik yang mengiringi keamanan produk tersebut. Termasuk di antaranya di Indonesia yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan vaksinasi COVID-19 nasional tahap II. Namun bukan cuma AstraZeneca, Indonesia sendiri juga menggunakan beberapa jenis vaksin lain seperti Sinovac, Novavax, hingga Moderna.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts