Kemenkes Prioritaskan Lansia dan Guru Usai Ada Embargo Vaksin Corona
Pexels/Gustavo Fring
Nasional
Vaksin COVID-19

Menurut Juru Bicara Vaksinasi dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, langkah tersebut diambil agar laju vaksinasi corona di RI tetap berjalan normal. Selain itu, kelompok rentan juga bisa segera mendapat suntikan vaksin COVID-19.

WowKeren - Embargo di sejumlah negara turut berdampak pada progres vaksinasi virus corona (COVID-19) di Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lantas mengaku akan mengubah skala prioritas sasaran vaksin COVID-19.

Menurut Juru Bicara Vaksinasi dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, langkah tersebut diambil agar laju vaksinasi corona di Tanah Air tetap berjalan normal. Selain itu, kelompok rentan COVID-19 bisa segera mendapat suntikan vaksin COVID-19.

"Sesuai juga rekomendasi WHO, dengan jumlah vaksin yang terbatas. Maka vaksinasi ditujukan pada kelompok yang paling rentan, yaitu lansia," jelas Nadia kepada media CNN Indonesia, Kamis (8/4). "Dan kita akan fokuskan kepada guru dan tenaga pendidik."

Dengan demikian, vaksinasi COVID-19 tahap II yang awalnya menyasar petugas pelayanan publik akan banyak dialokasikan kepada tenaga pendidik. Selain itu, target-target peningkatan jumlah vaksinasi juga akan tertunda akibat adanya embargo ini.


"Jadi kalau vaksin habis tidak, tetapi terbatas," papar Nadia. "Dan rencana awal untuk terus melakukan peningkatan jumlah dosis penyuntikan menjadi tertunda."

Sebelumnya, Menkes Budi Gunadi Sadikin mengakui bahwa program vaksinasi COVID-19 di Indonesia terpengaruh oleh embargo. Adapun embargo tersebut terjadi lantaran adanya gelombang ketiga penularan COVID-19 di negara-negara tempat produksi vaksin corona.

"Akibatnya pengaruhi ratusan negara dunia, termasuk Indonesia. Sehingga jumlah vaksin yang tadinya tersedia untuk Maret-April masing-masing 15 juta dosis, atau total dua bulan 30 juta dosis, kita hanya bisa dapat 20 juta dosis," tutur Budi dalam konferensi pers pada Senin (5/4). "Atau 2/3, sehingga akibatnya laju vaksinasinya, mohon maaf bisa sampaikan, agak kita atur kembali, sehingga kenaikannya tidak secepat sebelumnya, karena memang vaksinnya berkurang suplainya."

Meski demikian, Budi memastikan bahwa pemerintah kini masih terus melakukan negosiasi dengan negara-negara produsen vaksin corona tersebut. Dengan demikian, diharapkan situasi suplai vaksin bisa kembali normal pada Mei 2021 mendatang.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts