Usai AstraZeneca, Kini Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson Juga Disorot Gegara Pembekuan Darah
AP Photo
Dunia
Vaksin COVID-19

Otoritas obat-obatan Eropa (EMA) dan Amerika Serikat (FDA) tengah mengawasi perkembangan vaksinasi COVID-19 Johnson & Johnson yang belakangan dikaitkan dengan pembekuan darah.

WowKeren - Selama beberapa waktu belakangan, keamanan vaksin COVID-19 AstraZeneca terus menjadi sorotan. Sebab vaksin tersebut dikaitkan dengan terjadinya penggumpalan darah.

Dan rupanya kini vaksin COVID-19 yang dikembangkan Johnson & Johnson juga disoroti karena masalah serupa. Otoritas obat-obatan Eropa mengungkap temuan adanya penggumpalan darah yang cukup langka pada 4 orang di Amerika Serikat pasca menerima vaksin Johnson & Johnson.

Menanggapi temuan ini, Johnson & Johnson sendiri mengaku sudah menerima laporannya. Perusahaan tersebut kini tengah mengumpulkan berbagai data yang diperlukan untuk menunjang investigasi mereka.

Meski demikian, Johnson & Johnson menenangkan publik akan keamanan vaksinnya. "Sejauh ini tidak ada kaitan yang jelas antara kejadian langka ini dengan vaksin COVID-19 Janssen," tutur Johnson & Johnson lewat surel resminya, dilansir dari ABC, Sabtu (10/4).


Badan Obat-Obatan Eropa (European Medicines Agency / EMA) menyatakan bahwa ketiga pasien mengalami pembekuan darah dan kadar trombositnya pun rendah. Ketiganya sama-sama dijumpai di AS. Sedangkan satu kasus lagi telah dikonfirmasi meninggal dunia karena kelainan pembekuan darah ketika uji klinis vaksin Johnson & Johnson.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengaku juga sudah menerima laporan soal dugaan kaitan pembekuan darah dengan pemberian vaksin Johnson & Johnson ini, beberapa kasus juga dilaporkan dengan kondisi trombosit rendah. Kendati demikian FDA juga menegaskan bahwa situasi ini bisa terjadi karena beberapa penyebab.

"Kami tidak menemukan kaitan yang jelas antara vaksinasi (dengan pembekuan darah) dan kami melanjutkan investigasi serta asesmen kami atas kasus ini," tegas FDA. "Analisis kami akan menentukan aksi dan rilis regulasi selanjutnya."

Namun kejadian ini pun diharapkan tidak terlalu membuat publik khawatir. Sebab sejauh ini sudah 5 juta lebih penduduk AS yang menerima vaksin COVID-19 Johnson & Johnson dan yang mengalami efek samping tersebut hanya 3 orang di antaranya.

Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson merupakan salah satu produk dengan bahan aktif yang serupa AstraZeneca, yakni adenovirus yang telah dimodifikasi untuk melawan virus SARS-CoV-2. Namun berbeda dengan AstraZeneca yang memerlukan dua kali penyuntikan, Johnson & Johnson dilaporkan bisa memicu respons antibodi dengan maksimal hanya lewat satu kali suntikan.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts