Bukan Dana, Bukit Algoritma 'Silicon Valley Indonesia' Terancam Oleh Hal Tak Diduga Ini
Unsplash/Carles Rabada
Nasional

Indonesia berencana membangun pusat teknologi dan inovasi serupa Silicon Valley dengan 'kearifan lokal' di Sukabumi bertajuk Bukit Algoritma, yang ternyata terancam masalah ini.

WowKeren - Beberapa waktu belakangan gagasan membangun Silicon Valley Indonesia di Sukabumi, Jawa Barat tengah menjadi pembahasan panas. Daerah yang akan diberi nama Bukit Algoritma itu lebih tepatnya akan berdiri di lahan seluas 888 hektare di Cikidang dan Cibadak.

Megaproyek ini jelas langsung menjadi pro dan kontra. Apalagi karena sebuah fakta baru terungkap yang mengancam proyek ini, yakni fakta bahwa Bumi Algoritma berdiri di atas daerah rawan gempa bumi.

Melansir IDN Times, Cikidang dan Cibadak ternyata berada di dekat jalur sesar Citarik. Sesar ini sendiri merupakan salah satu dari beberapa struktur aktif di Jabar.

"Struktur aktif di Jawa Barat terdiri dari Sesar Baribis, Lembang, Garsela, Cipamingkis, Cimandiri, Citarik," beber Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Muhammad Sadly pada 20 November 2020 silam. "Dan mikro lainnya yang belum terindentifikasi serta terpetakan."


Secara umum Sukabumi sendiri memang merupakan wilayah rawan gempa. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono yang mengaitkannya dengan rekam sejarah gempa yang pernah merusak Sukabumi.

Meski demikian, Daryono tak melarang pembangunan apapun di tanah Sukabumi. Yang terpenting adalah pembangunan dirancang sebaik mungkin demi mengurangi risiko gempa.

"Sukabumi dilintasi jalur sesar aktif Cimandiri dan Citarik, tetapi boleh saja dibangun," terang Daryono, Selasa (13/4). "Terpenting struktur bangunannya tahan gempa dan mengacu building code, sehingga dapat mengurangi risiko jika terjadi gempa."

Bukit Algoritma yang digadang-gadang menjadi pusat teknologi Indonesia selayaknya Silicon Valley ini diinisiasi oleh Kiniku Bintang Raya KSO dan akan dibangun oleh BUMN Konstruksi PT Amarta Karya (AMKA). Ketua Pelaksana Kiniku Bintang Raya KSO Budiman Sudjatmiko memperkirakan megaproyek Silicon Valley "dengan kearifan lokal" ini membutuhkan dana mencapai Rp18 triliun untuk pembangunan tahap awal selama 3 tahun ke depan.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts