Dikritik Imbas Bakal Buang Limbah Nuklir ke Laut, Menteri Lingkungan Hidup Jepang Janjikan Hal Ini
Dunia

Kontroversi jelas langsung mengiringi rencana Jepang membuang 1 juta ton air limbah radioaktif ke lautan. Menteri Lingkungan Hidup Shinjiro Koizumi pun buka suara.

WowKeren - Negara Jepang tengah menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana pembuangan 1 juta ton air limbah radioaktif ke lautan lepas. Tentu saja lebih banyak pendapat kontra yang mengiringi keputusan ini, mengingat besarnya risiko lingkungan yang akan dihadapi.

Seolah paham negaranya menjadi pembicaraan dunia, Menteri Lingkungan Hidup Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan bahwa kadar zat radioaktif tritium dalam air limbah tersebut akan selalu dipantau. "Kami akan memantau tritium sebelum dan sesudah pelepasan," tegas Koizumi setelah rapat kabinet, Selasa (13/4).

Kementerian Lingkungan Hidup dan sejumlah otoritas lain sudah menyelidiki wilayah laut di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daichi, dengan fokus utama pada konsentrasi sesium. Sedangkan saat ini pihaknya siap mulai menyelidiki konsentrasi tritium sekitar setahun sebelum pelepasan air olahan.

Dalam kesempatan itu, Koizumi juga memastikan bahwa tritium yang akan dilepaskan dari Fukushima Daichi akan mematuhi standar internasional yang ada di masing-masing negara. "Dengan melakukan pemantauan yang menitikberatkan pada transparansi dan objektivitas serta mempublikasikannya, kami ingin meredam rumor yang ngawur beredar di luaran," sambungnya.


Pernyataan senada juga dilaporkan koresponden Tribun News di Jepang, Richard Susilo. Berdasarkan hasil liputan Richard, pembuangan air limbah ini paling cepat baru akan dilakukan tahun 2023 mendatang, ketika kadar radioaktif pada air limbah mencapai 1.500 Becquerel per liter.

"Saat ini masih tinggi level radioaktif. Namun nantinya saat dilepaskan ke laut akan ditekan hanya seper-40 saja sehingga menjadi 1.500 Becquerel per liter, aman bagi manusia," tutur Richard pada Selasa (13/4) sore waktu setempat.

Angka 1.500 Becquerel per liter ini pun nantinya akan kembali disesuaikan dengan standar di negara lain seperti Uni Eropa yang sebesar seribu Becquerel per liter. "Kita sesuaikan dengan lingkungan setempat yang sejak dulu didiami para penduduk, normal dengan standar 1.500 Becquerel per liter," terang Richard.

Pengawasan ketat juga akan dilakukan demi menekan dan memantau kadar radioaktif. "Setelah aman bagi semua pihak maka barulah dilakukan pelepasan air limbah tersebut ke laut," pungkas Richard mengabarkan ketegasan otoritas Jepang terkait pelepasan 1 juta air limbah nuklir ini.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts