Rektor Unair Bongkar Hasil Uji Praklinik Vaksin Merah Putih Pada Hewan Transgenik
pixabay.com/Ilustrasi
Nasional
Vaksin COVID-19

Universitas Airlangga yang merupakan salah satu pengembang vaksin COVID-19 buatan Indonesia yakni vaksin Merah Putih, menyampaikan bahwa hasil uji praklinik terhadap hewan berjalan lancar.

WowKeren - Baru-baru ini informasi terbaru mengenai vaksin Merah Putih mencuat ke publik. Vaksin Merah Putih sendiri dikembangkan oleh enam instansi. Namun, ada dua instansi yang menunjukkan perkembangan paling cepat yakni Lembaga Eijkman dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Mohammad Nasih selaku Rektor Unair mengatakan saat ini vaksin Merah Putih sedang melalui tahap uji coba atau uji praklinik pertama yang dilakukan kepada hewan transgenik. Menurut laporan yang diterima Nasih, uji coba pertama berjalan sukses.

"Secara teknis tidak ada masalah, kalau produksi itu urusan pemerintah dan industri, tapi secara teknis pada laporan terakhir, hewan yang disuntik vaksin sehat-sehat saja, tidak ada yang berdampak signifikan," ujar Nasih, Selasa (13/4).

Kendati demikian, Nasih mengatakan bahwa tahap uji coba pada hewan tersebut masih belum selesai. Ia mengaku sempat mengalami kendala dikarenakan hewan transgenik yang harus didatangkan dari Amerika Serikat sebab di Indonesia belum ada.


Nasih mengungkapkan bahwa mendatangkan hewan itu membutuhkan waktu serta proses yang panjang. Sesampainya di Jakarta, hewan-hewan tersebut harus di karantina terlebih dahulu. Hal itu membuat timeline yang semula sudah dijadwalkan menjadi berubah.

"Mendatangkan hewan dari Amerika Serikat itu ternyata tidak mudah, waktu yang dibutuhkan panjang," terang Nasih. "Sesampainya di Jakarta pun harus di karantina, sehingga bayangan kami 15 Maret bisa mulai, ternyata harus diundur 1 April, pada April pun hewannya masih di karantina sehingga belum bisa dipakai, alhasil penyuntikan vaksin pada hewan baru dilaksanakan pada tanggal 9 April."

Nasih membeberkan bahwa keenam instansi pengembang vaksin Merah Putih telah bertemu dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Senin (12/4). Dari pertemuan tersebut, Nasih berharap ada kabar baik mengenai vaksin COVID-19 buatan Indonesia itu. "BPOM sejak awal terlibat secara langsung, sehingga mudah-mudahan tidak ada alasan apapun untuk tidak memfasilitasi kami," jelasnya.

Selain itu, Nasih juga menerangkan bahwa beberapa waktu lalu BPOM mengisyaratkan bahwa dua bulan setelah uji klinik, vaksin Merah Putih bisa dikeluarkan. Oleh sebab itu, Nasih berharap vaksin COVID-19 Merah Putih bisa diproduksi massal pada akhir tahun 2021. "Kita berharap itu benar ditepati, sehingga pada Oktober atau November bisa dimanfaatkan," tutup Nasih.

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts