BPOM Ungkap Asal Usul Komponen Vaksin Nusantara Yang Saat Ini Tuai Kontroversi
Unsplash/Hakan Nural
Nasional
Kontroversi Vaksin Nusantara

Vaksin Nusantara gagasan mantan Menkes Terawan belakangan ini menuai kontroversi. Meski digadang-gadang sebagai vaksin COVID-19 hasil karya anak bangsa, ternyata ada campur tangan pihak asing.

WowKeren - Belakangan ini, vaksin Nusantara sedang menjadi pembicaraan lantaran beredar kabar jika riset vaksin COVID-19 gagasan mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto itu dihentikan. Hal ini, semakin menjadi kontroversi usai Aburizal Bakrie selaku Dewan Pembina Partai Golkar mendapatkan suntikan dosis vaksin Nusantara tanpa adanya izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Penny Lukito selaku Kepala BPOM mengungkapkan bahwa semua komponen utama pembuatan vaksin Nusantara diimpor dari Amerika Serikat (AS). Melalui uji klinis BPOM, ditemukan bahwa komponen vaksin Nusantara berasal dari AIVITA Biomedical Inc, yang merupakan perusahaan penyokong riset vaksin COVID-19 itu. "Semua komponen utama pembuatan vaksin dendritik ini di impor dari AS, mulai antigen, GMCSF, medium pembuatan sel, dan alat-alat untuk persiapan," ujar Penny dalam siaran pers pada Rabu (14/4).

Penny mengungkapkan bahwa proses transfer teknologi tersebut membutuhkan waktu yang lama. Hal itu lantaran perusahaan belum memiliki sarana produksi untuk produk biologi. Sehingga, butuh waktu setidaknya dua hingga lima bulan.


Lebih lanjut, Penny menjelaskan bahwa kerahasiaan data dan transfer data ke luar negeri juga tidak tertera dalam perjanjian penelitian. Ia menyebut hal itu terjadi dikarenakan tidak ada perjanjian antara Indonesia dengan AIVITA Biomedical Inc.

Penny menjelaskan bahwa tidak hanya semua komponen utama vaksin Nusantara yang berasal dari asing, melainkan juga dengan penelitinya. Penny mengatakan bahwa peneliti asing juga terlibat dalam riset. Karena adanya peneliti asing yang terlibat, membuat peneliti utama Indonesia tidak bisa menjelaskan banyak hal terkait dengan vaksin Nusantara dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komnas Penilai Obat.

"Proses pembuatan vaksin sel dendritik dilakukan oleh peneliti dari AIVITA Biomedical Inc, meskipun dilakukan training kepada staf di RS Kariadi, tetapi pada pelaksanaannya dilakukan oleh AIVITA Biomedical Inc," terang Penny. "Ada beberapa komponen tambahan dalam sediaan vaksin yang tidak diketahui isinya dan tim dari RS Kariadi tidak memahami."

Lantaran adanya ketidakjelasan, maka BPOM tidak bisa mengeluarkan izinnya, serta meminta riset vaksin Nusantara dikembangkan kembali di fase praklinik sebelum mendapat basic concept yang jelas. Pihak BPOM meminta penelitian dilakukan dengan Kemenristek.

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts