PBB Prediksi Jutaan Rakyat Myanmar Terancam Kelaparan Imbas Kudeta Militer
pexels.com/Jimmy Chan
Dunia

WFP mengungkapkan bahwa sejak akhir Februari lalu, harga beras telah mengalami kenaikan hingga 5 persen sedangkan harga minyak sudah naik hingga 18 persen.

WowKeren - Ketahanan pangan yang memburuk meningkat tajam di Myanmar seiring dengan adanya kudeta militer dan krisis keuangan yang terjadi. Jutaan orang diperkirakan akan menderita kelaparan dalam beberapa bulan ke depan.

Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Program Pangan Dunia (WFP) milik Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hingga 3,4 juta lebih orang akan berjuang untuk membeli makanan dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Wilayah perkotaan adalah tempat yang menderita dampak paling parah.

Berdasarkan analisa WFP, hal itu tak lepas dari adanya faktor meningkatnya jumlah orang yang kehilangan lapangan kerja, terutama di bidang manufaktur, konstruksi, dan jasa. Sementara itu, harga pangan juga diperkirakan akan meningkat. Oleh sebab itu, WHO mengajak semua pihak untuk melakukan langkah antisipasi guna mencegah musibah ini terjadi.


"Semakin banyak orang miskin kehilangan pekerjaan dan tidak mampu membeli makanan," kata direktur WFP Myanmar Stephen Anderson dalam sebuah pernyataan. "Respons bersama diperlukan untuk segera meringankan penderitaan dan untuk mencegah kemerosotan ketahanan pangan yang mengkhawatirkan."

WFP mengungkapkan bahwa sejak akhir Februari lalu, harga beras telah mengalami kenaikan hingga 5 persen sedangkan harga minyak sudah naik hingga 18 persen. Hal ini ditandai dengan banyaknya keluarga yang tinggal di Ibu Kota Yangon tak hanya melewatkan makan mereka tetapi makanan yang mereka konsumsi juga bukan yang bergizi. Bahkan sebagian dari penduduk di sana juga harus berutang untuk memenuhi kebutuhan.

Tentara Myanmar merebut kekuasaan dari pemerintah sipil yang terpilih secara demokratis pada 1 Februari yang membawa negara tersebut ke dalam kekacauan. Krisis yang terjadi telah membuat sistem perbankan macet, banyak cabang ditutup sehingga tidak dapat melakukan pembayaran dan pelanggan tidak dapat menarik uang tunai.

Banyak orang bergantung pada kiriman uang dari kerabat di luar negeri. Sebagian besar impor dan ekspor juga telah dihentikan dan pabrik-pabrik ditutup.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts