Kisah Horor WNI di Tengah 'Tsunami' COVID-19 India, Sulit Cari Makan Sampai 'Terjebak' Sistem Kasta
Flickr/unwomenasiapacific
Dunia
Pandemi Virus Corona

Salah seorang WNI menuturkan, masyarakat dari kasta atas atau kelompok kaya dan elite merasa tak perlu mematuhi protokol kesehatan sehingga memperburuk krisis yang ada.

WowKeren - "Tsunami" COVID-19 di India menjadi sorotan dunia, termasuk Indonesia yang baru-baru ini melarang masuk WN negara tersebut. Dan kini giliran WNI di India yang menceritakan perspektif mereka atas gelombang COVID-19 besar-besaran yang tengah melanda negeri Bollywood tersebut. Dan ternyata, krisis kesehatan ini pun tak jauh dari masalah kasta sosial di sana.

Diceritakan Arif Sorayaman Hulu, mahasiswa di Rajkot, Gujarat, masih banyak warga yang abai terhadap protokol kesehatan meski ratusan ribu kasus positif dikonfirmasi setiap hari. "Aktivitas warga berjalan normal, padahal pemerintah sedang menerapkan lockdown," kata Arif kepada BBC Indonesia, dikutip pada Jumat (23/4).

Situasi diperparah dengan kelompok masyarakat yang merasa dari kasta atas, kaya, dan elite, yang merasa boleh melanggar prokes. "Karena mereka merasa sudah hebat, berasal dari kelompok sosial yang tinggi, mereka merasa bisa melakukan apa saja," ujar Arif.

Karena itulah, Arif dan WNI lain hanya bisa membentengi diri dengan disiplin menerapkan prokes. Namun rasa waswasnya tetap membumbung menyadari asramanya yang sangat dekat dengan lokasi karantina pasien, para pengidap COVID-19 yang juga cenderung dibiarkan beraktivitas bebas di sekitar tempat isolasi, sampai penanganan kesehatan yang begitu lamban di sana.

Namun situasi berbeda disampaikan oleh Mohd Agoes Aufiya di Delhi. Menurutnya karantina wilayah yang diterapkan di Delhi bisa dipatuhi dengan baik oleh masyarakat, termasuk kewajiban memakai masker misalnya.

"Semua warga tinggal di rumah, tidak ke mana-mana, kecuali bagi mereka yang punya alasan valid untuk keluar rumah," kata Agoes. "Toko yang menyediakan kebutuhan bahan pokok buka, tapi toko-toko yang menjual bahan atau produk nonesensial tutup. Toko sepatu atau toko ponsel, itu tutup."

Namun Agoes tak menampik kewaspadaan masyarakat India memang sudah berkurang. Jika dahulu, ketika berhadapan dengan gelombang pertama, masyarakat sangat protektif dengan memakai masker, face shield, sampai sarung tangan. Situasi itu tak lagi ditemuinya saat ini.


"Mungkin karena merasa sudah menang, karena angka kasus memang sempat turun," tutur Agoes. "Mungkin membuat kekhawatiran atau ketakutan warga tidak sebesar dulu."

Sejauh ini para mahasiswa Indonesia di India mengintensifkan komunikasi satu sama lain lewat grup WhatsApp. "Kami berbagi informasi, mengingatkan bahwa keadaan sekarang sulit dan kita semua harus waspada, terutama di wilayah-wilayah episentrum, seperti di New Delhi, Kerala, Karnataka, Tamil Nadu dan Uttar Pradesh, mereka yang ada di kawasan-kawasan itu diminta untuk hati-hati," katanya.

Sedangkan Ayu Andriyaningsih di Lucknow, Ibu Kota Uttar Pradesh, juga menyampaikan hal senada dengan Agoes. "Terasa sekali ketika lockdown diberlakukan. Jauh lebih sepi. Alhamdulillah di sini masyarakat taat," tuturnya.

Ayu bersaksi rumah sakit di sana begitu kewalahan menghadapi puluhan bahkan ratusan ribu kasus positif dalam sehari. Dan bagi Ayu sendiri, krisis yang dirasakan makin berat karena kondisinya yang kini tengah berpuasa.

"Sekarang kami juga puasa, kemudian dalam posisi dikurung dengan situasi seperti ini, jadi kami misalnya susah cari bahan makanan," tuturnya. "Sekarang ini susah mencari sayur segar. Kadang ada vendor (pedagang) yang datang ke asrama, tapi kan tidak semuanya 100% segar."

Ayu pun mengaku sangat khawatir pandemi akan memburuk. "Kami khawatir sekali karena kasusnya melonjak, jadi takut. Ini membuat kami waspada," pungkasnya.

Banyak faktor yang menyebabkan India kembali berhadapan dengan lonjakan mengerikan kasus positif COVID-19. Salah satunya kedisiplinan prokes yang mulai pudar, sebuah langkah yang jangan sampai ditiru masyarakat Indonesia agar Bumi Pertiwi segera bebas dari wabah COVID-19.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts