Eks Direktur Penyakit Menular WHO Dorong Pemerintah Lebih Perketat Pengawasan Warga Masuk Indonesia
pixabay.com/Ilustrasi
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Sejumlah WNI dari luar negeri yang mudik saat ada lonjakan kasus COVID-19 di dunia, menyebabkan kekhawatiran bagi masyarakat. Guru Besar FKUI mendorong pemerintah untuk semakin memperketat pengawasan.

WowKeren - Semakin dekat dengan hari raya Idul Fitri 2021, terlihat sejumlah masyarakat yang tengah mempersiapkan atau bahkan telah mudik. Mengingat lebaran 2021 masih dalam kondisi pandemi COVID-19, hal itu tentunya cukup berbahaya karena berpotensi menularkan virus tersebut.

Melihat kondisi yang seperti itu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Tjandra Yoga Aditama meminta pemerintah Indonesia untuk memperketat pengawasan terkait penularan COVID-19, khususnya pelaku perjalanan dari luar negeri. Terlebih lagi jika ada warga dari India yang akan masuk ke Indonesia maka diharuskan pengawasan ekstra ketat. "Semua yang masuk ke Indonesia termasuk dari India, tentu harus menjalani karantina dahulu sebelum dapat beraktivitas," ujar Tjandra saat dihubungi oleh ANTARA, Jumat (23/4).

Tjandra mengatakan pelaksanaan karantina bagi pendatang dari luar negeri harus terus dipantau dengan ketat sesuai aturan yang berlaku. Jika ada yang dicurigai sakit, maka harus langsung ditangani sesuai dengan prosedur serta menelusuri kontak secara ketat.


Eks Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu memberikan contoh seperti Singapura yang menutup penerbangan dari sebagian negara Eropa pada pertengahan Desember 2020 lalu saat ada informasi varian baru B117. Tidak hanya menutup penerbangan, Singapura juga melakukan pencarian kontak siapa saja yang telah melakukan perjalanan ke luar negeri pada bulan November 2020.

"Singapura misalnya, mereka menutup penerbangan dari sebagian negara Eropa pada pertengahan Desember 2020 karena informasi varian baru B117, lalu mereka juga menelusuri siapa saja yang sudah datang sejak pertengahan November 2020," ungkap Tjandra. "Dengan cara ini, maka Singapura waktu itu dapat menemukan varian baru B117 di negaranya."

Tjandra menyarankan agar pemerintah melakukan pemeriksaan whole genome sequencing atau pengurutan keseluruhan genom pada penduduk yang dicurigai menderita COVID-19. Termasuk dengan penelusuran siapa saja yang telah memasuki Indonesia dari luar negeri sejak Maret 2021.

"Misalnya sekarang sakit COVID-19, padahal baru datang dari negara-negara yang melaporkan peningkatan kasus yang mungkin berhubungan dengan mutasi baru," tutup Tjandra. "Peningkatan jumlah pemeriksaan whole genome sequencing menjadi kunci utama untuk identifikasi kemungkinan varian dan mutasi baru yang mungkin ada di negara kita."

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts