Sudah 'Diburu' RI, Kapan Vaksin COVID-19 Sinovac Dapat Izin Penggunaan Darurat WHO?
Wikimedia Commons/AgĂȘncia BrasĂ­lia
Dunia
Vaksin COVID-19

Beberapa negara telah menggunakan vaksin Sinovac, termasuk Indonesia. Namun ternyata vaksin ini belum mendapat izin penggunaan darurat (EUL) dari WHO. Lantas kapan EUL ini akan turun?

WowKeren - Indonesia menjadi salah satu negara yang menggunakan vaksin COVID-19 yang dikembangkan Tiongkok, yakni Sinovac. Namun meski jutaan dosis vaksin sudah disuntikkan, ternyata produk dengan merek dagang CoronaVac itu belum mengantongi izin darurat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Izin darurat WHO, atau dikenal sebagai Emergency Use Listing, sejatinya serupa dengan izin serupa yang diturunkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), yakni Emergency Use Authorization (EUA). Meski standar dan prosedur penilaiannya serupa, EUL merupakan acuan untuk distribusi vaksin secara global karena merujuk pada putusan WHO.

Lantas dengan perannya yang sangat krusial itu, kapan Sinovac akan mendapatkan EUL dari WHO? Pakar teknis WHO mengungkap badan yang dikepalai Tedros Adhanom Ghebreyesus itu telah menjadwalkan pengulasan 2 vaksin dari Tiongkok dalam waktu dekat.

Dijelaskan WHO akan mengulas vaksin COVID-19 yang dikembangkan Sinopharm pada Senin (26/4) pekan depan. Sedangkan untuk Sinovac baru akan diulas WHO pada 3 Mei 2021.


"Kita menarget hasilnya akan disampaikan dalam beberapa hari setelahnya," kata WHO, dilansir dari Reuters, Jumat (23/4). Dengan demikian, sejauh ini baru ada 3 vaksin COVID-19 yang sudah mengantongi EUL WHO.

Ketiganya adalah Pfizer, Johnson & Johnson, dan AstraZeneca yang otomatis sudah mendapat "jaminan" aman dari WHO dan bisa menjadi acuan negara-negara lain. Namun di sisi lain diketahui pula vaksin COVID-19 produksi AstraZeneca dan Johnson & Johnson saat ini tengah berhadapan dengan sejumlah temuan kasus pembekuan darah yang dialami penerima vaksin.

Sebelumnya Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Indonesia menerangkan EUL atas vaksin Sinovac kemungkinan baru keluar pada akhir Mei 2021. "Per 14 April 2021, diketahui vaksin AstraZeneca telah memperoleh EUL sejak Februari 2021. Sedangkan vaksin Sinovac telah mengikuti prosedur pengurusan EUL, dan prediksi pemberian EUL yaitu pada akhir bulan Mei 2021," kata Juru Bicara Satgas COVID-19, Prof Wiku Adisasmito.

Namun Wiku juga menekankan, belum turunnya EUL WHO tak serta-merta membuat vaksin Sinovac tidak terjamin keamanan dan efikasinya. Menurut Wiku, EUA dan EUL adalah dua bentuk izin penggunaan terbatas atas vaksin, obat-obatan, dan alat diagnostik in vitro dengan parameter pertimbangan yang sama.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts