Bikin Nyesek, Lansia COVID-19 di India Wafat Usai Relakan Ranjangnya untuk Pasien yang Lebih Muda
AP Photo/Rajanish Kakade
SerbaSerbi
Pandemi Virus Corona

'Tsunami' COVID-19 menyebabkan pasien positif di India saling berebut ranjang rumah sakit. Namun seorang kakek 85 tahun merelakan ranjangnya demi pasien yang berusia jauh lebih muda darinya.

WowKeren - India tengah dihadapkan dengan krisis kesehatan besar-besaran menyusul "tsunami" COVID-19 yang terjadi. Sistem kesehatan India kolaps, menyebabkan banyak pasien COVID-19 yang tak bisa mendapat layanan medis dan berujung tingkat kematian yang meroket pula.

Situasi ini pula yang mendorong seorang lansia berusia 85 tahun bernama Narayan Dabhalkar untuk rela keluar dari RSUD Indira Gandhi Rughnalaya, Nagpur, Maharashtra ketika sedang dirawat. Dabhalkar rupanya merelakan jatah layanan medisnya usai melihat perjuangan seorang ibu yang memohon-mohon agar suaminya yang masih berusia 40 tahun bisa dirawat di RS tersebut.

"Saya sudah 85 tahun. Saya sudah menjalani kehidupan saya (dengan baik). Menyelamatkan nyawa pria yang lebih muda jauh lebih penting. (Apalagi) anak-anak mereka masih kecil. Tolong berikan ranjang saya kepada mereka," tutur Dabhalkar kepada dokter yang merawatnya, dilansir dari India Today, Kamis (29/4).

Pengorbanannya sontak menjadi perhatian masyarakat luas. Pasalnya tiga hari setelah Dabhalkar bersikeras pulang dan dijemput putrinya, Aasawari Kothiwan, pensiunan pegawai statistika itu meninggal dunia akibat COVID-19 ketika dirawat di rumah.

Rupanya ketika memaksa pergi dari rumah sakit, Dabhalkar dalam kondisi sangat kekurangan kadar oksigen. "Kami melarikan dia (Dabhalkar) ke rumah sakit ketika saturasi oksigennya jatuh pada 22 April," ungkap keluarga mendiang di media sosial, dilansir dari Independent.


"Kami bisa mendapatkan ranjang itu setelah perjuangan yang berat. Tetapi kami pulang selang beberapa jam setelahnya. Padahal dokter pun menyatakan dia dalam kondisi kritis," imbuh keluarga Dabhalkar.

Anak Dabhalkar mengungkap, sang ayah bersikeras menghabiskan sisa waktunya dengan keluarga. "Dia juga sempat membahas soal pasien muda itu. 'Saya sudah menjalani kehidupan saya dan lebih baik saya menyerahkan semua pada takdir daripada memaksa dirawat selama 2-3 hari dan mempertaruhkan nyawa pasien yang lebih muda'," demikian kutipan pernyataan Dabhalkar.

"Momen terakhir (hidup Dabhalkar) sangat menyakitkan. Kuku-kukunya menghitam, anggota badannya mati rasa. Ia meninggal saat menggenggam tanganku," sambung keluarga sang "pahlawan".

Sayangnya pengorbanan Dabhalkar kala itu tak melulu berbuah manis. Sebab otoritas rumah sakit menyatakan tidak bisa sebuah ranjang langsung diberikan kepada pasien tertentu sesuai permintaan.

"Kepada siapa ranjang diberikan adalah hak prerogatif dokter. Walaupun Dabhalkar yang merelakan ranjangnya sudah membantu menyediakan ruang untuk pasien lain," tutur otoritas terkait.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts