Ditinggal di Panti Asuhan Saat Bayi, Gadis Ini Tumbuh Jadi Model Cantik Majalah Vogue
Instagram/xueli_a
SerbaSerbi

Orang tua yang mengadopsi Xueli Abbing rupanya memiliki kenalan seorang desainer di Hong Kong. Saat usianya masih 11 tahun Xueli telah terjun di dunia model.

WowKeren - Ada kalanya di balik kesuksesan seseorang ada cerita menyayat hati yang mungkin akan sulit untuk dipercaya. Misalnya seperti cerita model Xueli Abbing yang kini telah menghiasi halaman majalah Vogue.

Ketika Xueli masih bayi, orang tuanya meninggalkannya di luar panti asuhan. Di Tiongkok, albinisme oleh sebagian orang dipandang sebagai kutukan. Kondisi genetik langka menyebabkan kekurangan pigmen yang membuat kulit dan rambut Xueli sangat pucat dan juga sangat sensitif terhadap sinar matahari. Namun siapa sangka jika penampilan yang berbeda ini justru yang membawanya ke karier sebagai model.

"Staf di panti asuhan menamai saya Xue Li," kata dia melansir BBC, Jumat (30/4). "Xue artinya salju dan Li artinya cantik. Saya diadopsi ketika saya berumur tiga tahun dan tinggal bersama ibu dan saudara perempuan saya di Belanda."


Ia mengakui jika terlahir sebagai albino di sebagian tempat di muka bumi bisa jadi sangat sulit. "Beberapa anak, seperti saya, ditinggalkan, yang lain dikurung atau jika mereka pergi ke sekolah, rambut mereka dicat hitam," ujarnya.

Ia bahkan tidak tahu kapan ulang tahunnya mengingat orang tuanya tidak meninggalkan informasi adapun saat meninggalkannya di panti asuhan. "Tetapi sekitar setahun yang lalu, saya melakukan rontgen tangan saya untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat tentang usia dan menurut dokter 15 tahun," ujar Xueli.

Beruntung, orang tua yang mengadopsinya rupanya memiliki kenalan seorang desainer di Hong Kong. Saat usianya masih 11 tahun Xueli telah terjun di dunia model. Pemotretan yang dilakukannya diunggah ke media sosial. "Agensi model Zebedee Talent menghubungi dan bertanya apakah saya ingin bergabung dengan mereka dalam misi mereka untuk membuat para penyandang disabilitas terwakili di industri fashion," jelasnya.

Melalui kariernya, ia ingin mengatakan pada orang-orang bahwa albinisme bukan kutukan, melainkan kelainan genetik. Ia juga tidak ambil pusing dengan konsep keindahan fisik yang diagungkan banyak orang. "Mungkin karena saya tidak bisa melihat semuanya dengan baik, saya lebih fokus pada suara orang dan apa yang mereka katakan. Jadi kecantikan batin mereka lebih penting bagiku," paparnya.

(wk/zodi)

You can share this post!