Tak Hanya Bisa Tularkan COVID-19, Dokter Ungkap Bahaya Lain Tes Antigen Bekas
pixabay.com/Ilustrasi
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI) dr. Agus Dwi Susanto menyoroti dampak kasus rapid test antigen bekas tersebut kepada psikologis masyarakat Indonesia.

WowKeren - Kasus rapid test antigen dengan menggunakan alat bekas hasil daur ulang kini tengah menghebohkan masyarakat. Diketahui, sejumlah oknum petugas Kimia Farma mencuci stik bekas pakai dengan alkohol 75 persen dan kemudian digunakan kembali untuk calon penumpang pesawat di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara.

Fenomena meresahkan ini membuat kalangan dokter merasa khawatir. Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI) dr. Agus Dwi Susanto menyoroti dampak kasus tersebut kepada psikologis masyarakat Indonesia.

"Tentunya ini adalah hal yang sangat disayangkan, bahwa itu terjadi," tutur Agus kepada suara.com, Jumat (30/4). "Mengenai dampaknya gimana, tentu ada dampak psikologis kepada para masyarakat, kalau di-swab mereka khawatir jangan-jangan pakai bahan bekas."

Hal tersebut juga bisa menambah ketakutan di kalangan masyarakat. Apalagi anggapan dan rumor rumah sakit kerap "meng-COVID-kan" pasien sudah marak beredar di masyarakat. Hal ini dapat memperberat tugas tenaga kesehatan dalam meyakinkan masyarakat dan juga menambah beban pekerjaan.


"Bisa aja dampak psikologi takut bekas orang, jadi positif, jadi trauma. Pemikiran (trauma) seperti itu menjadikan jadi PR tambahan kepada petugas kita untuk meyakinkan," papar Agus. "Karena itu (penggunaan antigen bekas) memang tidak patut dilakukan, sehingga sangat disayangkan."

Selain berdampak ke psikologis masyarakat, kasus rapid test antigen bekas ini juga bisa meningkatkan risiko penularan COVID-19 sendiri. Selain itu, praktik culas ini juga berpotensi membuat penggunanya terinfeksi kuman atau bakteri dari penyakit lain.

"Karena kan bekas, infeksius, harus dibuang," terang Agus. "Kategorinya limbah infeksius harus dibuang dan dimusnahkan."

Sebelumnya, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Sumatera Utara juga telah menyatakan bahwa virus kemungkinan masih akan menempel di stik rapid test antigen tersebut meski telah dicuci menggunakan alkohol. "Kalau secara medis ya enggak lah. Secara medis tidak semua kuman itu bisa mati kalau dibersihkan hanya dengan alkohol saja," kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Sumut, dr Aris Yudhariansyah.

Lebih lanjut, Aris mengungkapkan bahwa alat bekas pakai tersebut bisa menjadi perantara virus dari satu orang ke orang lainnya. Hal tersebut tentu sangat berbahaya, terlebih di masa pandemi seperti sekarang.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts