Eks Manajer Kimia Farma Tersangka Tes Antigen Bekas Ternyata Tengah Bangun Rumah Mewah di Sulsel
Unsplash/Mufid Majnun
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Sebelumnya, Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak mengungkapkan bahwa dari hasil penyidikan, ada sekitar 9 ribu orang yang telah melakukan tes antigen menggunakan alat daur ulang.

WowKeren - Polisi telah membongkar praktik rapid test antigen dengan menggunakan alat bekas hasil daur ulang di Bandara Kualanamu, Sumatera Utara. Lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus ini, termasuk mantan Business Manager Laboratorium Kimia Farma berinisial PM.

PM yang sebelumnya berperan sebagai penanggungjawab laboratorium diduga merupakan oknum yang mengarahkan penggunaan cotton buds swab antigen bekas. Kekinian, PM dilaporkan tengah membangun sebuah rumah mewah di Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

"Benar, PM merupakan warga kita. Dia baru membangun rumah mewah di depan rumah lamanya," ungkap Ketua RT setempat, Muslim, kepada awak media, Sabtu (1/5). "Saat ini masih dalam tahap pembangunan. Sudah dua hari ini tampak kosong dan terkunci rapat."


Menurut Muslim, pengerjaan rumah mewah PM dihentikan usai kasus tes antigen bekas tersebut mencuat. "Pengerjaan rumah mewah milik PM itu disetop oleh pihak keluarganya setelah kasus yang menjerat PM mencuat," papar Muslim.

Adapun PM disebut telah menjadi warga Lubuklinggau sejak tahun 2011 lalu. "Sudah lama dia tinggal di sini, sudah sejak 2011 lalu. Dia sehari-hari dikenal pribadi yang baik dan aktif mengikuti kegiatan masyarakat," kata Muslim.

Sebelumnya, Kapolda Sumut Irjen Pol RZ Panca Putra Simanjuntak mengungkapkan bahwa dari hasil penyidikan yang dilakukan pihaknya, ada sekitar 9 ribu orang yang telah melakukan tes COVID-19 menggunakan alat tes rapid antigen daur ulang. Para pelaku mendaur ulang alat tes rapid antigen dengan cara dicuci menggunakan alkohol, dan kemudian digunakan kembali di Bandara Kualanamu.

Menurut salah satu tersangka yang berinisial MR, dirinya dipaksa PM untuk mengeluarkan hasil non-reaktif karena tugasnya sebagai juru ketik hasil rapid test antigen. Kendati demikian, menurut MR, jika hasil rapid test-nya memang positif, maka akan tetap ditulis apa adanya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts