3 Varian 'Seram' COVID-19 Masuk RI, Kemendagri Sigap Larang Bukber Sampai Open House Lebaran
Pexels/mentatdgt
Nasional
Idul Fitri 2021

Indonesia telah mengonfirmasi masuknya varian COVID-19 Inggris, India, dan Afsel ketika Hari Raya Idul Fitri di depan mata. Kemendagri pun langsung mengeluarkan larangan ini.

WowKeren - Sudah dua kali Hari Raya Idul Fitri dilalui dengan suasana berbeda karena pandemi COVID-19, termasuk tahun ini. Bahkan belum lama ini Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian kembali mengeluarkan larangan yang seolah membuat suasana Lebaran jadi semakin "kelabu".

Lewat surat edarannya, mantan Kapolri itu meminta gubernur, wali kota, dan bupati supaya tidak menggelar buka puasa bersama (bukber). Bukan cuma itu, open house yang biasa dilakukan saat Idul Fitri pun dilarang untuk dilakukan.

Dalam surat tertanggal 4 Mei 2021 itu disebutkan dua poin utama larangan. Berikut isi poin dalam SE Nomor 800/2784/SJ, seperti dikutip dari Kumparan:

  1. Melakukan pelarangan kegiatan buka puasa bersama yang melebihi dari jumlah keluarga inti ditambah 5 orang selama bulan Ramadhan 1442 H/T2
  2. Menginstruksikan kepada seluruh pejabat/ASN di daerah untuk tidak melakukan dalam rangka Hari Raya Idul Fitri 1442 H/Tahun 2021

Surat Edaran ini pun ditegaskan lagi oleh Staf Khusus Mendagri bidang Politik dan Media, Kastorius Sinaga. "Jadi pejabat daerah Gubernur, Bupati dan Wali Kota tidak melakukan open house saat hari Lebaran," tutur Kastorius.


Menurut Kastorius, Surat Edaran ini diterbitkan menyusul potensi penularan COVID-19 yang lebih parah akibat masuknya 3 varian baru virus Corona. Diketahui ketiga varian yang berbahaya itu adalah B117 dari Inggris, B1617 dari India, dan B1351 dari Afrika Selatan.

"Langkah antisipatif dalam surat edaran ini sebagai wujud agar kita tidak lengah dan tidak kendur," tegas Kastorius. "Kita harus berkaca dengan kejadian fatal di India. Akibat lengah dan kendur maka terjadilah tsunami COVID-19 India."

Kastorius lantas menyoroti pelaksanaan Pilkada serentak pada Desember 2020 lalu. Menurutnya, pelaksanaan pesta demokrasi itu berlangsung dengan protokol kesehatan ketat sehingga tidak menjadi tempat penularan wabah.

"Ritual mudik dan lebaran harus kita jaga agar tidak menimbulkan gejolak naik grafik COVID-19," pungkas Kastorius. "Tapi sebaliknya tren menurun, tingkat infeksi baru kita pertahankan terus. Agar sesegera mungkin kita terbebas dari serangan COVID-19 dan kita bisa fokus ke pemulihan ekonomi."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts